"Bu Guru... Dodo Sakit Lagi..."
JARUM jam baru saja menunjuk pukul sembilan pagi, lewat beberapa menit. Waktunya jam istirahat sekolah. Anak-anak berhamburan keluar kelas, aku pun kemudian ke ruang guru, untuk sekadar menghilangkan lelah.
Namun saat baru saja duduk, aku dikejutkan langkah kaki berlari dan teriakan seorang murid menuju ke arahku.
"Bu Guru... Dodo sakit lagi. Kumat lagi..."
Aku terkejut. Segera aku beranjak dari tempat duduk dan bergegas menuju ruang kelas.
Sesampai di kelas, aku melihat salah seorang murid tergeletak di lantai dengan mulut mengeluarkan cairan seperti lendir. Mata terbelalak. Kaki dan tangannya mengejang. Dialah Dodo (maaf, hanya nama samaran).
"Allahu Akbar... Kasihannya anak ini," batinku sambil bergegas menolongnya.
Ini memang bukan kejadian pertama kali. Sejak pertama kali masuk sekolah, Dodo sudah begitu. Sekarang dia telah kelas 2. Berarti, sudah dua tahun di sekolah ini. Selama itu hampir setiap hari -- pada jam yang hampir sama pula --, dia sering mengalami kejang-kejang seperti itu. Aku pun menjadi terbiasa menghadapinya.
Sekarang, aku punya cara agar Dodo tidak kambuh lagi. Setiap hari di jam yang sama, sekitar pukul sembilan pagi, aku selalu mengingatkan dia untuk buang air kecil.
Jika aku lupa mengingatkannya, biasa sakitnya akan kambuh. Apakah ada hubungan antara penyakit kejang-kejangnya dengan buang air kecil? Entahlah.
Dodo memang memiliki sakit bawaan sejak kecil, yaitu ayan (epilepsi). Setahun lalu, waktu aku mengajar kelas 1, Dodo menjadi salah satu muridku. Saat itulah, untuk pertama kalinya aku melihat dia terjatuh dan kejang-kejang.
Lantaran sangat panik dan tidak tahu harus berbuat apa, aku berteriak sambil berlari ke ruang guru. Aku meminta tolong kepada salah seorang guru laki-laki untuk mengangkat anak itu.
Tak lama setelah ditidurkan, Dodo tersadar. Anehnya, dia seperti tak pernah terjadi apapun. Hanya bengong sambil memandangi sekitarnya.
Esok paginya, orang tua Dodo datang menemuiku untuk meminta maaf dan mengucapkan terima kasih perihal kejadian tentang anaknya kemarin.
Dia bercerita banyak tentang sakit yang diderita anaknya.
"Padahal waktu bayi dia terlahir normal Bu, tidak ada kelainan apapun," kata ibunya sambil matanya berkaca-kaca menahan tangis.
Dia lalu bercerita asal mula anaknya terkena epilepsi.
"Dodo mulai kejang sejak berumur 3 tahun. Waktu itu dia sempat sakit panas tinggi selama satu minggu. Kami sudah membawanya berobat ke dokter dan juga orang pintar," tutur ibunya.
Aku spontan bertanya, "lho kenapa dibawa ke orang pintar segala Bu, bukannya kejang itu efek dari sakit panasnya?"
Namun ibu itu menjawab bahwa Dodo kejang bukan karena sakit biasa. "Bukan Bu. Dodo kejang karena kesambet (kemasukan roh halus)," kata si ibu.
Eeaalaah... Masih juga ada yang percaya hal seperti itu di jaman semodern ini.
Menurut kepercayaan orang desa, anak itu kemasukan roh jahat. Padahal bila menurut ilmu kedokteran, anaknya mengindap sakit ayan atau epilepsi.
Mirisnya belum ada obat atau metode untuk menyembuhkan sakit ini. Epilepsi hanya ada tindakan pencegahan agar tidak kambuh lagi.
Kini, Dodo sudah kelas 2. Ada faktor yang membuat aku mempertahankan dia tetap belajar di kelasku. Kebetulan aku tahun ini ditugaskan untuk mengajar kelas 2.
Selain karena aku sudah terbiasa menangani penyakitnya, di sisi lain dia juga memiliki kemampuan yang sama dengan murid-murid lainnya di kelas. Dia bahkan memiliki otak yang lumayan encer untuk ukuran anak seusianya.
Walau pun harus ekstra sabar karena banyak tingkah, tapi dalam hal pelajaran dia mampu seperti teman-temannya yang lain. Semangat belajarnya yang tinggi membuat aku tak tega kalau dia harus lebih banyak belajar di rumah.
Cara dia membaca, menulis, dan menghitung, ternyata tidak kalah dengan teman-temannya yang lain.
Yang membuatku sangat bersyukur karena teman-temannya mau menerima dia apa adanya. Tak pernah mengucilkan, apalagi memusuhinya. Semua temannya akrab. Sampai-sampai mereka hafal jam berapa Dodo biasa kejang. (*)
Foto: ilustrasi (internet)
Namun saat baru saja duduk, aku dikejutkan langkah kaki berlari dan teriakan seorang murid menuju ke arahku.
"Bu Guru... Dodo sakit lagi. Kumat lagi..."
Aku terkejut. Segera aku beranjak dari tempat duduk dan bergegas menuju ruang kelas.
Sesampai di kelas, aku melihat salah seorang murid tergeletak di lantai dengan mulut mengeluarkan cairan seperti lendir. Mata terbelalak. Kaki dan tangannya mengejang. Dialah Dodo (maaf, hanya nama samaran).
"Allahu Akbar... Kasihannya anak ini," batinku sambil bergegas menolongnya.
Ini memang bukan kejadian pertama kali. Sejak pertama kali masuk sekolah, Dodo sudah begitu. Sekarang dia telah kelas 2. Berarti, sudah dua tahun di sekolah ini. Selama itu hampir setiap hari -- pada jam yang hampir sama pula --, dia sering mengalami kejang-kejang seperti itu. Aku pun menjadi terbiasa menghadapinya.
Sekarang, aku punya cara agar Dodo tidak kambuh lagi. Setiap hari di jam yang sama, sekitar pukul sembilan pagi, aku selalu mengingatkan dia untuk buang air kecil.
Jika aku lupa mengingatkannya, biasa sakitnya akan kambuh. Apakah ada hubungan antara penyakit kejang-kejangnya dengan buang air kecil? Entahlah.
Dodo memang memiliki sakit bawaan sejak kecil, yaitu ayan (epilepsi). Setahun lalu, waktu aku mengajar kelas 1, Dodo menjadi salah satu muridku. Saat itulah, untuk pertama kalinya aku melihat dia terjatuh dan kejang-kejang.
Lantaran sangat panik dan tidak tahu harus berbuat apa, aku berteriak sambil berlari ke ruang guru. Aku meminta tolong kepada salah seorang guru laki-laki untuk mengangkat anak itu.
Tak lama setelah ditidurkan, Dodo tersadar. Anehnya, dia seperti tak pernah terjadi apapun. Hanya bengong sambil memandangi sekitarnya.
Esok paginya, orang tua Dodo datang menemuiku untuk meminta maaf dan mengucapkan terima kasih perihal kejadian tentang anaknya kemarin.
Dia bercerita banyak tentang sakit yang diderita anaknya.
"Padahal waktu bayi dia terlahir normal Bu, tidak ada kelainan apapun," kata ibunya sambil matanya berkaca-kaca menahan tangis.
Dia lalu bercerita asal mula anaknya terkena epilepsi.
"Dodo mulai kejang sejak berumur 3 tahun. Waktu itu dia sempat sakit panas tinggi selama satu minggu. Kami sudah membawanya berobat ke dokter dan juga orang pintar," tutur ibunya.
Aku spontan bertanya, "lho kenapa dibawa ke orang pintar segala Bu, bukannya kejang itu efek dari sakit panasnya?"
Namun ibu itu menjawab bahwa Dodo kejang bukan karena sakit biasa. "Bukan Bu. Dodo kejang karena kesambet (kemasukan roh halus)," kata si ibu.
Eeaalaah... Masih juga ada yang percaya hal seperti itu di jaman semodern ini.
Menurut kepercayaan orang desa, anak itu kemasukan roh jahat. Padahal bila menurut ilmu kedokteran, anaknya mengindap sakit ayan atau epilepsi.
Mirisnya belum ada obat atau metode untuk menyembuhkan sakit ini. Epilepsi hanya ada tindakan pencegahan agar tidak kambuh lagi.
Kini, Dodo sudah kelas 2. Ada faktor yang membuat aku mempertahankan dia tetap belajar di kelasku. Kebetulan aku tahun ini ditugaskan untuk mengajar kelas 2.
Selain karena aku sudah terbiasa menangani penyakitnya, di sisi lain dia juga memiliki kemampuan yang sama dengan murid-murid lainnya di kelas. Dia bahkan memiliki otak yang lumayan encer untuk ukuran anak seusianya.
Walau pun harus ekstra sabar karena banyak tingkah, tapi dalam hal pelajaran dia mampu seperti teman-temannya yang lain. Semangat belajarnya yang tinggi membuat aku tak tega kalau dia harus lebih banyak belajar di rumah.
Cara dia membaca, menulis, dan menghitung, ternyata tidak kalah dengan teman-temannya yang lain.
Yang membuatku sangat bersyukur karena teman-temannya mau menerima dia apa adanya. Tak pernah mengucilkan, apalagi memusuhinya. Semua temannya akrab. Sampai-sampai mereka hafal jam berapa Dodo biasa kejang. (*)
Foto: ilustrasi (internet)

Sedih bacanya, membayangkan anak kecil kejang2 seperti itu. Semoga diberikan keajaiban kesembuhan oleh Allah.
BalasHapusSemangat buat Mbak Rahayu, jadi guru terbaik untuk anak didiknya 💪