Postingan

Ulasan Cerita Pendek: Kamar Mandi Mertua

Gambar
A. Orientasi Kamar Mandi Mertua adalah cerita pendek karya Mubruroh Qosim . Ia seorang penggiat literasi. Cerpen ini telah dimuat di ngodop.com . Cerpen ini bercerita tentang rumah tangga dengan beraneka ragam kisah, termasuk perselingkuhan. Di situ dikisahkan sosok Maryani yang menjadi tokoh utama dalam cerpen ini. Dia perempuan yang tinggal bersama mertuanya. Nah, di sinilah cerita itu bermula. Dia mencurigai suaminya berselingkuh dengan seorang perempuan. Bahkan, Maryani mencurigai, percintaan mereka sering dilakukan di sebuah kamar mandi mertuanya yang cukup sepi. Hingga, perselingkuhan itu membuahkan hasil; bayi di luar nikah. Hatinya hancur. Lebih hancur lagi, ketika Maryani diminta untuk menyusui bayi hasil hubungan gelap suaminya dengan perempuan itu. B. Tafsiran Pada bagian awal cerpen ini, dikisahkan sang tokoh utama, Maryani, sedang memperhatikan tingkah seorang perempuan yang tengah mengendap-endap di antara rimbun pohon singkong. Satu tangannya ...

Sumpah dari Kubur

Gambar
(Bagian 5) Tok..tok..tok.. "Assalamualaikum... Bulik, buka pintunya. Ini Jihan. Ibu pingsan Bulik," kata Jihan sedikit teriak. Dia menangis sambil terus mengetuk pintu rumah Bulik Siti. Tak lama Bulik Siti datang membuka pintu. Tanpa memberi kesempatan apapun pada Bulik Siti, Jihan langsung menarik tangannya dan mengajaknya berlari menuju rumahnya. Sesampainya di rumah mereka langsung masuk kamar ibunya dan mendapati wanita itu masih terbujur tak berdaya.  Bulik Siti kemudian minta tolong tetangga sebelah rumah untuk mencarikan mobil dan membawa Ibu Dimas ke rumah sakit. Tanpa pikir panjang, pagi dinihari itu mereka membawa Ibu Dimas ke rumah sakit agar secepatnya mendapat pertolongan. Tepat pukul 05.00 WIB mereka sampai rumah sakit. Mereka disambut perawat yang sedang piket d UGD. "Alhamdulillah Ibu langsung mendapat pertolongan pertama. Semoga Ibu membaik di sini," harap Jihan dalam hati. Dia memutuskan Ibu Dimas untuk dirawat in...

Sumpah dari Kubur

Gambar
(Bagian 4) Sejak kejadian itu, Ibu Dimas jatuh sakit. Sepertinya dia sangat memikirkan peristiwa yang telah mengoyak harga diri dan hatinya sebagai seorang ibu. "Ya Allah, apa salahku hingga anak bungsuku sudah berani membantahku sekarang. Maafkanlah hamba-Mu ini Ya Allah. Sadarkanlah anak hamba," begitu rintihan Ibu Dimas di setiap sujudnya. Ya, walaupun sedang sakit, Ibu Dimas selalu melaksanakan kewajibannya. Menyiapkan kebutuhan keluarga dan taat beribadah pada-Nya. Dia berpikir mungkin dengan beraktivitas semua ganjalan di hatinya sedikit terlupakan. Sakit yang dideritanya tidak lantas membuat perempuan paruh baya itu manja. Setelah beraktivitas layaknya ibu rumah tangga lainnya, Ibu Dimas selalu mengisi waktunya dengan membaca-baca kitab Berzanji. Bersenandung dengan suara merdunya, hingga merasa lupa dengan persoalan yang sedang dihadapi. Terhanyut dakam lantunannya sendiri. "Ya Robbi Solli 'Ala Muhammad..Ya Robbi Solli 'Alaih Wass...

Marita Ningtyas, Sang Blogger yang Produktif

Gambar
Namanya Marita Ningtyas. Dia seorang ibu rumah tangga yang akhirnya menjalani passion lamanya secara profesional di bidang tulis menulis. Marita aktif menggelutinya sejak tahun 2012. Lulusan Sastra Inggris dari Universitas Dian Nuswantoro ini, sekarang telah dikaruniai dua orang anak, buah dari pernikahannya dengan Martin Eko Setiawan, seorang programmer RS Wongsonegoro Semarang. Anak pertamanya bernama Madya Hanifa Setianingtyas (Ifa) yang telah berusia 8 tahun. Ifa saat ini sekolah di Kuttab Al Fatih Semarang. Putra keduanya bernama Muhammad Rafanda Setiawan atau dipanggil Affan. Usianya baru hampir 3 tahun. Mereka sekarang tinggal di Griya Klipang Asri, Kelurahan Sendangmulyo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Pada masa awal resign, ibu muda kelahiran Kota Semarang, 16 Maret 1985 ini sempat merasakan seolah menjadi momok yang menakutkan. Namun sekarang dia justru bersyukur, karena telah dibukakan banyak jalan dan nikmat yang luar biasa. Salah satunya, dipertemukan dengan ...

Sumpah dari Kubur

Gambar
(bagian 3) Percekcokan ibu Dimas dan ibu Intan kian memanas. Hampir saja terjadi perkelahian bila saja Dimas terlambat datang dan tidak melerainya. Dimas yang berada di kamar, ternyata mendengar percekcokan ibu dan ibunya Intan. Karena itu, dia pun keluar untuk melerai. Percekcokan keduanya terhenti setelah menyadari siapa yang ada di hadapan mereka. "Heehh anak bau kencur, dengerin ya. Aku ibunya Intan, tidak sudi jika anakku berhubungan dengan kamu, apapun itu alasannya. Mulai sekarang kamu tidak boleh menemui anakku lagi," bentak ibu Intan sambil berkacak pinggang. Dimas hanya diam menunduk. Dia tidak berani menatap mata perempuan yang sedang marah itu. "Dimas, kamu sudah mendengar sendiri perkataan dari ibunya Intan. Jadi mulai sekarang, sudahi hubungan kalian. Kamu masih kecil, baru beranjak remaja, masa depanmu masih panjang. Sebentar lagi kelulusan sekolah, pergilah kamu mencari ilmu," kata ibu Dimas tanpa menghiraukan ibu Intan yang sedang berbi...

Sumpah dari Kubur

Gambar
(Bagian 2) Tok..tok..tok.. Tok..tok...tok.. Terdengar pintu depan diketuk dengan keras, seperti sedang terburu-buru. Tanpa mengucap salam atau permisi. Karena tak ada jawaban, orang di balik pintu itu kembali mengetuk pintu. Sedikit berlari, Ibu Dimas yang masih berusaha mengenakan mukenah bergegas menuju pintu depan. "Iya sabar... sebentar," sahut Ibu Dimas dari dalam rumah. Tak ada jawaban dari luar. Ibu Dimas tidak langsung membukakan pintu. Dia mengintip dari balik gorden jendela. Seketika bertanya dalam hati soal sosok di luar. "Siapa gerangan perempuan yang di luar itu, baru kali ini aku melihatnya?" gumamnya dalam hati. Segera Ibu Dimas membuka pintu. Dan terlihatlah sosok perempuan separoh baya dengan dandanan yang sedikit meno. Sekilas seperti perempuan dari keluarga berada. Tak ada senyum secuilpun terlihat di wajahnya. Dia berkacak pinggang. Wajahnya seolah sedang menahan amarah yang sangat. Tanpa permisi perempuan itu langsung masuk ...

Sumpah dari Kubur

Gambar
(Bagian 1) Siang itu suasana pantai begitu cerah. Langit biru dengan matahari yang bersinar hangat menambah indah sekeliling. Angin berhembus pelan dengan nyanyian ombak yang berdebur seakan memelodikan cericit camar yang kadang bertingkah memainkan sayap-sayap cantik mereka. Ramai suara anak kecil bermain pasir di tepian dan berkejaran, seperti tak peduli panas membakar tubuh mungil mereka. Tak sedikit pula pengunjung lainnya duduk santai di bangku-bangku yang disediakan di sepanjang pesisir, sekedar melepas lelah sambil menikmati udara pantai dan sesekali mengawasi anak-anak mereka bermain. Di antara para pengunjung itu, ada sepasang anak muda duduk berdua di bangku. Keduanya seperti sedang asyik memadu asmara. Melihat pakaian yang dikenakan, mereka sepertinya masih anak sekolahan tingkat atas. Keduanya tak peduli bila puluhan mata sejak tadi memperhatikan tingkah mereka yang terlihat mesra. Keduanya memang dua sejoli yang sedang dimabuk cinta. Sebut saja namanya Dimas d...