Sumpah dari Kubur


(Bagian 5)


Tok..tok..tok..
"Assalamualaikum... Bulik, buka pintunya. Ini Jihan. Ibu pingsan Bulik," kata Jihan sedikit teriak.

Dia menangis sambil terus mengetuk pintu rumah Bulik Siti.

Tak lama Bulik Siti datang membuka pintu. Tanpa memberi kesempatan apapun pada Bulik Siti, Jihan langsung menarik tangannya dan mengajaknya berlari menuju rumahnya.

Sesampainya di rumah mereka langsung masuk kamar ibunya dan mendapati wanita itu masih terbujur tak berdaya. 

Bulik Siti kemudian minta tolong tetangga sebelah rumah untuk mencarikan mobil dan membawa Ibu Dimas ke rumah sakit. Tanpa pikir panjang, pagi dinihari itu mereka membawa Ibu Dimas ke rumah sakit agar secepatnya mendapat pertolongan.

Tepat pukul 05.00 WIB mereka sampai rumah sakit. Mereka disambut perawat yang sedang piket d UGD. "Alhamdulillah Ibu langsung mendapat pertolongan pertama. Semoga Ibu membaik di sini," harap Jihan dalam hati.

Dia memutuskan Ibu Dimas untuk dirawat inap karena takut kambuh lagi.

Setelah mendapat pemeriksaan, Ibu Dimas kembali sadar. Namun dia tidak mampu berkata apapun. Dia hanya menangis.

"Maafkan Ibu ya Jihan. Maafkan aku Siti jika aku merepotkan kalian. Lebih baik bila aku mati, agar kalian tidak repot mengurusku," kata Ibu Dimas di sela tangisannya.

"Ibu bicara apa? Ini belum seberapa dengan pengorbanan Ibu selama ini buat aku. Aku yang minta maaf karena aku belum bisa membahagiakan Ibu," jawab Jihan sambil memeluk Ibunya erat.

Bulik Siti hanya terdiam sambil menahan tangis. Suasana ruangan senyap. Semua terdiam dalam gejolak perasaannya masing-masing.

Tiba-tiba pintu terbuka dan munculah sosok laki laki paruh baya. Ternyata ayah Jihan yang datang.

"Bagaimana keadaanmu Bu, apakah sudah baikan?" tanya lelaki itu begitu melihat istrinya terbaring di ranjang.

"Alhamdulillah, Ibu sudah baikan Yah. Ayah apa kabar, maafkan Ibu ya Yah," jawab Ibu Dimas pelan sambil mengulurkan tangannya bersalaman dengan suaminya. Lelaki yang sudah berpuluh tahun menemaninya dalam suka dan duka. Lelaki yang tak pernah menyerah mencari nafkah untuk keluarganya.

Tanpa menjawab, lelaki itu langsung meraih bahu istrinya dan memeluknya erat sambil menangis. Jihan dan Bulik Siti terharu melihat pemandangan di depannya.

Cukup lama suami-istri itu saling mendekap. Tersadar jika perempuan dalam pelukannya diam tak bergeming, lelaki yang juga ayah Dimas itu melepaskan pelukannya dan membaringkannya di ranjang. Dia menggoyang-goyangkan tubuh istrinya dengan panik.

"Bu... Ibu... Kenapa diam? Bangun Bu.. Ini Ayah, Ibu pasti kuat," kata ayah Dimas samsil terus berusaha membangunkan istrinya.

"Ayah kenapa dengan Ibu, mengapa Ibu pucat dan diam saja?" tanya Jihan sambil berlari mendekati ranjang ibunya. Saat itu dia mendapati tubuh ibunya sudah terbujur kaku.

Melihat kejadian itu, Bulik Siti langsung keluar kamar memanggil dokter. Tak lama dokter datang bersama seorang perawat. Mereka langsung memberi tindakan medis pada Ibu Dimas. Sambil berdebar Jihan dan ayahnya serta Bulik Siti menunggu hasil dari pemeriksaan dokter.

Tak lama dokter pun menghampiri ketiganya. Bagai disambar geledek ketika dokter mengabari bahwa Ibu Dimas telah tiada. Sakit jantungnya tidak bisa tertolong. Spontan Jihan dan ayahnya serta Bulik Siti histeris. Tak percaya melihat kenyataan di depan mata. Perempuan yang mereka cintai telah pergi untuk selamanya.

"Huu.. huu.. Ibuuuuu... jangan tinggalkan Jihan. Ayah, cepat bangunkan Ibu. Ibu tidak boleh pergi," rengek Jihan sambil memukul dada ayahnya yang sedari tadi memeluknya.

Ayah hanya terdiam, tidak mampu berkata apapun. Sungguh lelaki itu tidak percaya istrinya akan pergi dengan begitu cepat. Belum sempat dia meminta maaf pada istrinya, namun Allah berkehendak lain.

Kabar duka menyelimuti kekuarga besar Dimas. Saudara dan tetangga mereka datang untuk berbelasungkawa. Terdengar raungan tangis Dimas di kamar ibunya. Dia merasa sangat berdosa dan bersalah karena mengabaikan ibunya selama sakit. Tapi penyesalan Dimas tidak ada gunanya.

Sebulan kemudian tibalah hari pengumuman kelulusan Dimas. Pagi ini ayah dan Dimas berangkat ke sekolah untuk menerima surat kelulusan.

"Alhamdulillah, kamu lulus Nak," kata ayahnya sambil mengacak-acak rambut Dimas.

Dimas sangat bahagia, akhirnya lulus dari Sekolah Menengah Atas. Mereka pun kemudian pulang. Belum juga ayah melepas helm, Dimas sudah mengajaknya bicara.

"Ayah, Dimas mau bicara sana Ayah," katanya.

"Ada apalagi Dimas, bukankah tadi di sekolah sudah ngobrol?" tanya ayahnya heran.

"Iya Ayah. Tapi ini masalah lain," sahut Dimas lagi.

"Masalah apa? Masalah kamu nanti meneruskan sekolah? Tenang aja Nak. Kamu boleh memilih perguruan tinggi manapun yang kamu mau, asalkan kamu serius, pasti akan selalu ada jalan," jawab ayahnya.

"Bukan Ayah. Bukan masalah itu. Sebelumnya aku minta maaf, kalau nanti aku bikin Ayah marah," jelas Dimas lirih.

Belum sempat ayahnya menjawab, Dinas melanjutkan ucapannya.

"Yah, Dimas mau menikah dengan Intan."

Jleb. Bagai petir di siang bolong lelaki itu mendengar perkataan Dimas. Tidak disangka sedikitpun anak bungsunya akan berkata seperti itu.

"Apa maksud ucapanmu Dimas? Kamu jangan main-main. Baru saja lulus sekolah sudah mau menikah, punya apa kamu untuk menghidupi anak istrimu kelak," kata ayahnya dengan suara yang sedikit tinggi. Terbaca jelas kemarahan Ayah Dimas.

"Dimas tahu ini salah Yah. Tapi Dimas harus bertanggung jawab pada Intan. Dia hamil karena aku," jawab Dimas sambil berlutut memeluk kaki ayahnya yang terdiam.

"Ya Allah, apa salahku Gustiii, hingga Kau timpakan cobaan yang maha berat ini," tangis ayahnya sambil memukul-mukul kepalanya.

Hari-hari berlalu. Dimas sering pulang malam dan ayahnya semakin betah di makam ibunya. Lelaki itu merasa gagal menjadi orang tua. Gagal menjaga amanah istrinya.

Sejak kematian ibunya, Jihan pun merasa sangat kesepian.

"Jika Ibu masih ada, mungkin rumah selalu ramai," batin Jihan sambil membayangkan ibunya.

Karena tidak ingin terlarut dalam masalah ini, akhirnya setelah melakukan musyawarah dengan saudara-saudaranya, diputuskan Dimas boleh menikahi Intan. Karena bagaimanapun aib anaknya adalah aib keluarganya.

Tanpa pesta ataupun, prosesi akad nikah Dimas dengan Intan berlangsung. Tidak ada satu orangpun dari pihak Intan yang menyaksikan, karena ternyata sejak mengetahui Intan hamil keluarganya langsung mengusirnya dari rumah.

Setelah menikah, Dimas dan Intan tinggal bersama ayahnya. Walaupun masih terasa benci terhadap mereka, tapi Jihan berusaha bersikap biasa saja. Yang selalu Jihan ingat adalah merekalah penyebab ibu meninggal.

Tinggal serumah dengan Dimas dan istrinya, membuat ayahnya jarang pulang. Dia lebih suka berlama-lama di luar kota.

Sementara itu, dengan bermodal ijasah SMA, Dimas keluar masuk kantor untuk melamar pekerjaan, tapi hasilnya nihil. Padahl kondisi kehamilan Intan sudah semakin besar. Selama ini mereka makan dari uang gaji Jihan yang dibelanjakan untuk keperluan rumah.

Sayup-sayup terdengar jeritan Intan dari kamarnya. Jihan yang sedang memberesi pakaian terkejut dan langsung berlari menuju kamar Dimas. Dia melihat Intan histeris sambil memegangi perutnya. Jihan berpikir Intan hendak melahirkan. Jihan menyuruh Intan tenang dan mencari mobil untuk mengantar Intan ke rumah bersalin.

Sesampainya di rumah bersalin, Intan langsung ditangani dokter kandungan. Tak lama dokter keluar kamar periksa dengan wajah yang tegang dan seperti sangat heran. Terdengar raungan tangis Intan dari kamar itu. Jihan langsung bertanya pada dokter.

"Bagaimana keadaanya Dok. Apakah bayinya sudah lahir? Terus kenapa adikku menangis histeris seperti itu?"

Dokter berusaha tenang lalu menjelaskan kondisinya.

"Maaf Dek. Kami sudah berusaha semampu kami, tapi memang kasus ini baru pernah terjadi, sungguh di luar nalar kami di dunia kedokteran."

"Ada apa dokter?" tanya Jihan semakin penasaran.

"Bayi dalam kandungan saudari Intan tidak ada, padahal jika melihat hasil rekam medik pemeriksaan tiap bulan, bayi itu ada dan sangat sehat," jawab dokter.

"Ya Allah... cobaan apalagi ini," batin Jihan.

Jihan langsung masuk ke ruang periksa dan ternyata sudah ada Dimas di situ sedang menenangkan Intan.

Jihan jadi ingat sumpah ibunya yang tidak akan merestui hubungan Dimas dan Intan sampai kapanpun.

"Mungkin inilah jawabanya dari sumpah Ibu, tapi entahlah... hanya Allah yang Maha Tahu Segalanya," begitu batin Jihan. (Tamat)

Komentar

  1. Subhanallah...kemana debaynya..aq tercengang mba, bayinya bisa hilang gitu 😥😥

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silakan Simak Ini Saudaraku

Tentang Bayangmu