Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2019

Keluarga Baruku Motivatorku

Gambar
AKU akan cerita sedikit, mengapa sampai "terdampar" di Komunitas ODOP dan juga pengalamannya selama ini berada di dalamnya. Awalnya aku tidak pernah nyangka bakal masuk di wadah para penulis hebat dan berpengalaman. Modal nekat sebenarnya, karena aku ingin belajar lebih dalam lagi tentang dunia tulis menulis. Masuk komunitas ODOP, mengenal orang-orang keren dengan berbagai macam karakter dan karya-karya yang bikin aku berfikir keras, "apa rahasia mereka bisa menghasilan tulisan-tulisan yang tidak membosankan untuk dibaca." Jujur saja aku paling suka membaca tulisan mbak Riana (mungkin karena latar kehidupan yang hampir sama). Setiap membaca karyanya aku seperti sedang meraba kehidupanku sendiri. Banyak hal yang membuat aku termotivasi, terinspirasi, dan merasa bersemangat kembali. Ada mbak Naila juga yang rajin ngingetin aku, juga nyemangati aku kalau aku telat setoran. Setengah jam saja tidak membuka obrolan grup dijamin mata harus ektra teliti. Discrol ...

Risalah Awal

Gambar
Perkembangan moral hingga saat ini banyak yang seperti jauh dari nilai-nilai ajaran Agama. Lebih-lebih gejala dekadensi moral pada generasi muda kita, juga merebaknya aliran-aliran di luar ajaran akidah yang benar terus bermunculan. Melihat gejala itu, sudah sepatutnya sebagai warga negara yang baik dan mempunyai kepedulian terhadap bangsa dan negara untuk bersama-sama memperjuangkan agar generasi yang akan datang menjadi manusia yang utuh, yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Sebuah langkah tepat telah dilakukan Pemkab Tegal dengab memasukan salah satu bahan pembelajaran muatan lokal yang digagas oleh putra dearah yaitu KH. Said bin KH. Armia, dalam bentuk kitab Ta'limul Mubtadiin (Risalah Awal). Hal inu sebagai sarana  pembuka mempelajari Ilmu Taukhid yang lebih fundamental. Dengan pemberian risalah awal diharapkan generasi bangsa akan mempunyai akhlak yang benar sesuai dengan ajaran yang Rosululloh SAW yang diteruskan ulama sebagai pewaris para Nabi. Dengan dem...

Resensi Buku; Titip Rindu untuk Ibu

Gambar
Judul buku: Titip Rindu untuk Ibu. Penulis: Eidelweis Almora. Penerbit: Euhenia Jakarta. Cetakan pertama : 1996. Tebal: 118 Buku ini menceritakan kisah seorang anak yang sangat membenci ibunya. Alasannya karena sang Ibu cacat. Ketika suatu hari Ibunya datang ke sekolah, Wati (nama anak itu) langsung memarahinya, karena teman-temannya mengejek ibunya. Membaca buku ini, kita diajak untuk melihat betapa perjuangan seorang ibu tanpa pamrih. Meski dirinya dalam kondisi tak normal. Tak pernah mengeluh meski dirinya penuh kekurangan. Hanya satu yang diinginkan, sang anak bahagia. Di situ juga digambarkan, seorang ibu tetap saja berbuat baik meski sang anak terkadang membalasnya dengan sesuatu yang menyakitkan. Tak ada kata menyesal. Hanya kasih sayang yang terpancar dari tindakan dan senyumnya. Alurnya mengalir seperti di kehidupan nyata. Gaya bahasa yang digunakan sangat sederhana dan mudah dipahami. Buku ini berisi pesan bahwa bagaimana pun kondisi orangtua kita, harus tet...

Untuk Kalian Masa Depan Mama

Gambar
Nak... Pandai-pandailah ketika berucap.. Luka karena kata bisa dimaafkan... Namun tetap berbekas dalam ingatan... Pilihlah sikap yang paling baik... Karena manusia itu tidak bisa disamakan... Memperingatkan juga tak bisa sama satu dan lainnya Teruslah melangkah mengikuti keyakinanmu... Berhenti sejenak jika kamu ragu... Dan jangan pernah berbalik arah... Kalian adalah wanita hebat... Tak ada rahasia untuk menggapai sukses.. Sukses itu ada pada dirimu sendiri... Sekadar berteori saja tidak cukup Sayang... Lakukan dengan tindakan nyata... Saat kalian sukses nanti... Usai sudah tugas orang tuamu... Tinggal tugasmu membahagiakan mereka... InsyaAllah jalian takkan lupa...

Suara Itu, Milik Siapa?

Gambar
Kereta ini berjalan pelan, dari arah Weleri menuju Slawi, Tegal. Aku perjalanan pulang setelah menengok putri bontotku yang sedang menimba ilmu di pesantren di Kendal. Aku tidak sendiri. Saudara perempuanku menemaniku. Namanya Tati. Kami duduk berdampingan. Di tengah-tengah, ada seplastik cemilan. Isinya bermacam gorengan. Ah, aku tidak peduli meski aku tengah didengar batuk. Cemilan ini salah satu favoritku. Di gerbong, aku lihat kursi di depan, samping, belakang, semuanya penuh penumpang. Tak bersisa. Mereka melakukan aktivitasnya sendiri. Ada yang bermain game di handphone, bervideo call, menelepon, atau sekadar mendengarkan lagu. Tak banyak juga yang langsung selonjoran dan bersiap tidur. Ya, maklum, hari ini aku mendapatkan kereta sore. Berangkat dari Weleri pukul 17.00, dan akan sampai di Slawi pukul 19.00 lewat. Suara riuh mereka seolah ingin menghiburku yang masih saja terdiam. Aku tak seperti mereka. Aku lebih memilih diam. Aku justru merasa sendiri di antara mereka...

Tentang Rindu

Gambar
Aku belajar kuat dengan rindu yang terlanjur kau tancapkan. Aku belajar tegar seperti daun yang diterpa angin. Aku diam seperti karang dihempas gelombang lautan. Aku terus belajar menjadi seseorang yang kuat,setiap hari. Jika kau ingin tahu isi hatiku, itu bukan lagi tentang dirimu, Tapi tentang rinduku yang keterlaluan padamu. Allah dan Malaikat-Nya hafal siapa nama yang paling riuh aku sebut. Apakah kau melakukan hal yang sama? Apakah doamu juga sama? Apakah rindumu juga sama dengan rinduku? Jika tidak, maukah kita tikam rindu ini dalam dalam? Agar tahu, siapa di antara kita yang paling menderita karena rindu.

Tuhan Tidak Pernah Meninggalkanku

Gambar
DI kamar, perempuan itu duduk di sudut kasur. Begitu gundah. Pandangannya nanar keluar. Menatapi bintang-bintang, memandangi bulan yang sabit. Bersatu dengan temaram langit. Suara tembang dari warung sebelah menyusup lewat celah ventilasi. Musiknya mengiringi kesepiannya. Iramanya menawarkan kesunyian. Sesunyi hatinya. "Apakah aku kuat tanpa dia? Sampai kapan?" Ia masih ingat ketika lelaki itu memutuskan cinta. Lelaki yang sekian lama pernah menjadi kekasihnya dan kini telah meninggalkannya. Tanpa sebab. Begitu menyakitkan. Bagai duri menusuk tepat ulu hati. Dunia terasa gelap. Menghitam. Setemaram langit malam yang masih dipandanginya. Lampu jalanan, bahkan cahaya bintang dan rembulan tak mampu menjadi terang. Dia merasa hanya gelap teman setianya saat ini. Buliran air mata perlahan jatuh, menggenangi seluruh kenangan. Masih tergambar wajah tampannya. Terngiang kata-kata mesranya. Semburat senyum-senyum indahnya yang kini menjelma belati yang menghujam sekujur tub...

Lelakiku

Gambar
Dear lelakiku... Melupakanmu adalah hal tersulit... Aku harus meluaskan ruang perasaan yang terhimpit. Namun, hati ini tak bisa aku nasehati Setiap hari aku mengeja rasa, lalu menghadirkanmu lewat mimpi. Meski kita tak bisa saling rengkuh, namun aku tak mengeluh. Meski kita tak seatap bersama, kau masih bisa kujumpai lewat dedoa. Dan, ini caraku mencintaimu Seperti hujan yang tak reda, meski jatuh pada jurang berjelaga, menghancurkan butiran butiran rasa Kau tetap ku jadikan sajak cinta. Dalam hidupku kau telah menjadi catatan pustaka. Kau akan menjadi sejarah yang ku simpan di kotak hatiku. Ini caraku mengabadikan rasa, meski ragamu tak mungkin kumiliki. Denganmu, cintaku sehidup sesurga...

Jarak

Gambar
Sayang, tak ada yang lebih indah  selain jarak... Ia mengabadikan rindu Yang menari di antara hening, Menghadirkan lukisan rupamu yang menyusup diantara kesendirian rembulan Sayang, tak ada yang lebih menyiksa  selain jarak... Ia menciptakan sesak Melagukan gelisah Menuangkan resah Menyuguhkan airmata Sayang, tak ada yang lebih khawatir  selain jarak... Ia melahirkan cemas Menghadirkan prasangka Mengusik ketenangan taman cinta Sayang, tak ada yang lebih menjanjikan selain jarak. Ia datang menguji setia Agar berlipat bahagia saat jumpa.

Antara Keindahan Alam dan Jiwa

Gambar
Hari Minggu pagi, handphone berbunyi. Ternyata dari teman. Dia mengajak jalan-jalan ke pantai. Kebetulan. Aku sudah lama tak mendengar teriakan burung camar. Juga riak ombak yang sedikit nakal. Tak hanya aku. Siapapun manusianya pasti menyukai keindahan. Setiap kita menyenangi keelokan alami dunia yang menawarkan keteduhan, kenyamanan, kesejukan. Seolah menjadi ruang melepas segala penat dan membuang kejenuhan. Pantai Alam Indah (PAI) atau pemandian air panas Guci menjadi destinasi wisata andala Kabupaten Tegal. Setiap akhir pekan seperti sekarang, dipenuhi pengunjung dari penjuru daerah. Hembusan angin pegunungan, gemercik air terjun Guci, atau pun pesona pantai adalah bagian kecil keindahan alam yang diburu pelancong. Termasuk aku. Jujur, sejak mengenal sosial media, aku semakin suka jalan-jalan menikmati alam. Sengaja selfie dengan latar belakang pemandangan yang indah. Entah itu pantai, alam pegunungan, suasana hiruk pikuk kota, atau kesunyian pedesaan yang tentram. Ta...

Rindu Merana

Gambar
Seperti kemarin.... Malam ini kembali aku sunyi dalam hening sepimu.. Hiruk canda sepasang sejoli tak sedikitpun mampu hadirkan senyum di bibirku... Kasih, engkau dimana.. Jangan kau  biarkan aku larut dalam prasangka salah tentangmu Tolong kabari aku. Jarak membuat irama merindu melengking tinggi Apa yang bisa aku lakukan selain merana Suara detak jarum jam memperberat jerit di dada, Tahukah kau, tak ada yang kuharap saat ini selain indah senyummu Jika tak mampu kau hadirkan ragamu disini, cukuplah titipkan pada bulan, pada bintang ilusi rindumu untukku Agar aku bisa sedikit lelap dalam dekap hangatmu malam ini...

Cukup Sudah

Gambar
Entah apa tujuanmu datang kembali ke hidupku... Andai dulu niatmu hanya sekadar singgah, seharusnya kamu tidak membiarkanku patah... Kenapa tidak buru-buru pergi saat hatiku biasa-biasa saja waktu itu... Saat semuanya mendalam dan diriku tenggelam, Kau menghantamkan kenyataan pahit... Kamu pandai memposisikan diri sebagai korban... Cukup sudah keresahan jiwa... Apa-apa yg kamu buat sengsara akan aku telan pahitnya... Aku akan mengenangmu sebagai seorang yang begitu gagah mengawali rindu... Lalu menusukkan belati saat memelukku... Tepat d jantungku... Beruntung hanya mampu membuatku sekarat berbulan-bulan... Waktu lebih tega mengutukku untuk tetap pertahankanmu... Cukup sudah kesakitan yang aku rasa... Kamu bukanlah seseorang yang layak disebut cinta... Kamu ingin melakukan apa saja, aku bahkan tak peduli lagi... Rasa sedih yang dulu bertahan berbulan-bulan nyatanya berlahan pergi... Kini semua terasa hambar... Kabarmu pun bukan lagi yang membuatku berdebar... ...

Dari Puisi Aku Mengenalmu

Gambar
"Mbak, aku suka banget kalau buka beranda di medsos dan menemukan puisimu. Mbaperi. Selalu bisa  membawa pembacanya seolah mengalami sendiri, apalagi kalau puisi tentang cinta... hmmm, berasa banget. Kadang ikut bahagia, kadang juga ikut sedih. Kenapa tidak bikin buku saja dari kumpulan puisi-puisimu mbak, biar yang lain juga bisa menikmati." Itulah celoteh teman mayaku panjang lebar ketika tidak sengaja kami bertemu di sebuah pusat perbelanjaan. Jujur saja bukan hanya kali ini ada temen yang menyarankan begitu. Hanya aku masih belum percaya diri. Sungguh. Aku juga tidak tahu mengapa suka sekali menulis puisi, atau sekadar nulis-nulis pendek, tentang segala hal. Terutama tentang aku dan lingkunganku. Awal aku suka menulis puisi itu dari keisengan membuka-buka buku harian kakakku. Dulu sekali, saat aku masih remaja. Aku sangat menikmati tulisan-tulisan beliau. Singkat, penuh warna, hingga kadang aku berkhayal sendiri. Kesukaanku pada puisi semakin bertambah keti...

Menunggumu

Gambar
"Aku rindu pantai itu," gumamku dalam hati sore ini. Tiba-tiba saja rasa itu muncul. Tentu bukan tanpa sebab. Ya, bukan pantainya yang membuatku rindu. Tapi sosok lelaki yang pernah menuntunku ke sana. Ke bibir pantai sambil menikmati senja. Menjamahi sunsetnya yang merona kemerahan. Kala itu, berjalan bersamanya, senja seperti memelukku. Begitu hangat. Sehangat tatapannya yang kini menjelma kenangan. Ya kenangan kala perpaduan terang dan gelap itu. Masih terngiang saat ia bisikan sepotong kalimat di telingaku, "jangan jenuh menungguku." "Aku akan kembali nduk," katamu kala itu. "Iya, dan aku akan setia hingga engkau kembali," balasku. Mataku saat itu nanar. Berkaca-kaca. Sebutir airmata mengalir di pipiku. Tapi aku tersenyum. Bahagia. Aku tahu, saat itu ia harus kembali ke perantauan. Pesawatnya segera lepas landas, dan hatiku dibawa lagi bersamanya. Menunggu? Bagi banyak orang itu membosankan. Menyiksa. Tapi bagiku, menungguny...

Entah...

Gambar
SETIAP pulang mengajar, aku pasti menyempatkan untuk ke rumah kedua orangtua, tidak langsung ke rumahku. Bukan sekadar menengok beliau. Terkadang membantu keperluan rumah, seperti memasak, mencuci pakaian, bahkan mengepel. Makan bersama sambil bercengkrama. Atau sekadar untuk rebahan. Melepas segala penat. Aku sangat bersyukur masih diberi kesempatan merawat dan menjaga kedua orangtua. Makan bersama dalam satu meja. Tak jarang aku memilih untuk bermalam. Aku memang lebih nyaman bersama mereka. Menikmati senyumnya, mendengarkan petuah-petuahnya, dan juga canda tawanya. Jarak rumah orangtua tidak terlalu jauh dari tempatku mengajar, tapi cukup lelah bila harus berjalan kaki. Maka, aku pun selalu memanfaatkan ojek yang pangkalannya tak jauh dari sekolah. Bila ke rumah orangtua, aku selalu melewati pekuburan umum desaku. Di situ, sudah ratusan, mungkin ribuan jasad warga desa telah dikebumikan. Dari jalan, terlihat nisan-nisan tertata. Berderet pula pohon kamboja yang membuat tedu...

Pagi Itu di Guci...

Gambar
MINGGU pagi. Jarum jam baru menunjuk pukul enam lewat beberapa menit. Udara di obyek wisata Guci, Kabupaten Tegal, Jateng, masih terasa begitu dingin. Embun masih menempel di dedaunan, rumput-rumput yang terhampar tepat di depanku masih terlihat basah. Tanganku pun sedikit gemetaran menahan dingin. Aku tak sendirian. Berdua dengan saudara sepupu. Berboncengan. Kebetulan, rumah kami dekat dengan Guci. Sekira 7 kilometeran. Aku sengaja datang pagi-pagi. Bukan sekadar wisata. Aku mencoba untuk meningggalkan rutinintas. Suasana masih sepi. Belum banyak pengunjung. Begitu tenang. Setenang pikiranku yang seperti baru saja terbebas dari beban berat. Mencoba melupakan rutininas kantor yang tak selesai mengganggu pikiran, tumpukan masalah keseharian, hingga melupakan raut wajah lelaki yang selama ini terus menggayut di mata. Aku memang tidak langsung ke wisata pancuran yang terkenal itu. Tapi sengaja menyusuri hutan pinus yang masih ada di kompleks wisata. Di wisata Guci saat pagi, a...

Purnama

Gambar
Malam ini purnama lagi ternyata bulan berbulat seperti pupil matamu yang selalu tersipu saat kujajah terpejam saat kukecup basah saat aku :mengucap 'maaf' Malam ini purnama lagi ternyata Kita duduk di pelataran hati Jarak tak jadi sebab bahwa kita tak sedang menatap bulan yang sama Malam ini purnama lagi ternyata Bintang muncul entah berapa jumlahnya Izinkan aku mengambil satu untuk kupersembahkan pada matamu Agar engkau tak lagi gelap memandang setiaku... Malam ini purnama lagi ternyata Selalu ada debar di relung hati ini. Tentangmu yang selalu mampu gairahkan gejolak rindu. Dan merayu aku untuk bermanja...

Pasar Tradisional dan Sampahnya

Gambar
PASAR tradisional adalah sebuah tempat bertemunya penjual dan pembeli secara langsung. Meski sudah banyak mall, pasar modern, dan minimarket, namun keberadaan pasar tradisional tetaplah menjadi idola berbelanja masyarakat, terutama kalangan menengah kebawah. Selain itu, pasar tradisional tetap menjadi urat nadi perekonomian masyarakat. Baik di perkotaan, lebih-lebih daerah pedesaan. Seperti juga di pasar modern, pasar tradisional juga banyak dijual hasil bumi dan produk masyarakat. Mulai dari sayuran, buah-buahan, bumbu dan peralatan dapur, pakaian, hingga hasil UMKM lainnya. Pasar tradisional lebih disukai masyarakat khususnya di pedesaan. Apalagi pembeli bisa melakukan penawaran harga. Bayangkan, sudah murah, bisa ditawar lagi. Sesuatu yang tidak ada di pasar modern atau swalayan. Saat ini, pemerintah menggalakkan renovasi pasar tradisional agar lebih representatif. Istilahnya, tempat modern tapi harga tetap tradisional. Sayangnya, banyak pasar tradisional kurang memperhat...

Surat Kecil dari Sepupu

Gambar
TERNYATA begitu banyak darimu yang menginspirasi.. Seperti kadang aku tahu bersandarmu pada pohon berduri atau berpegang pada lumut hijau di arus sungai. (sepertinya bukan kau tapi aku...) Caramu membenci dengan membenamkan senyum pada senja yang coba kupahami Caramu membiarkan angin menghembuskan kabar rindumu yang kuikuti.. Dan banyak sekali gumammu menjadi nada dalam doa Aku pun mulai mengekor di belakangmu.. Saat gelap mengungkungi segala sela jiwa Kau bakar itu dengan sepercik api senyum Kapanpun ku lihat itu lewat gambarmu.. Hingga tak tahu kapan gelap itu ada untukmu.. Aku tak perlu sesumbar dengan apa yang aku alami.. Banyak sekali yang melewatinya dengan cara lebih baik dariku.. Bismillah.. Diamku adalah doa... Senyumku adalah percikan api semangat ..

Ah... Masa Lalu

Gambar
MALAM ini terasa ada yang asing. Dinding tembok kamar seolah kurang bersahabat, menaburkan aroma sunyi, sepi. Jam dinding pun seolah begitu, sibuk sendiri,berlari berputar. Ah, inginku meraih jam dinding itu dan memutar waktu kembali ke masa dulu atau bahkan ke masa depan. Aneh, malam ini sungguh terasa beda. Rindu datang bertubi-tubi, menghajar, menikam kepala dengan kenangan. Dan aku pun menemukan kepingan-kepingan masa lalu betebaran, beterbangan di setiap sudut ruangan mataku, meski aku berusaha menghindar dengan memejamkan mataku. Aku menangkap satu per satu kepingan masa lalu dan menyusun ulang setiap waktu yang pernah kulewati; ada sedih, bahagia, gembira, tangis, dan tawa hingga membuat mata ini bergerimis dan hati berhujan. Apakah aku harus menyerah pada kepingan kenangan yg begitu menggoda? Ah, tidak, aku tak ingin menyerah pada kenangan. Biarlah malam ini aku memilih diam dan menikmati secangkir kopi, menyusun kepingan masa lalu menjadi jembatan ke masa depan, ...

Kang Mas...

Gambar
Selamat pagi cintaku yang rupawan.. Yang mempesonakan Yang terpatri dalam sanubari Entah mengapa selalu saja aku tersenyum setiap ingatmu, tanpa pernah jemu.. Kita bertaut tanpa sekat meski jarak begitu mengarak Selamat pagi lelakiku... Telah aku kirimkan rasaku pada langit Biar birunya menjelma senyummu saat fajar mulai menguning Selamat pagi rinduku... Mengingatmu adalah keindahan tak berbatas Bersamamu adalah bahagia tak berwaktu Begitu paripurna... Selamat pagi sayangku... Dirimu laksana terbuat dari rindu yang terangkai merdu.. Bagai langgam yang mengalun di antara ruang-ruang belantara Ah... Kang Mas... Ilustrasi: internet

"Bu Guru... Dodo Sakit Lagi..."

Gambar
JARUM jam baru saja menunjuk pukul sembilan pagi, lewat beberapa menit. Waktunya jam istirahat sekolah. Anak-anak berhamburan keluar kelas, aku pun kemudian ke ruang guru, untuk sekadar menghilangkan lelah. Namun saat baru saja duduk, aku dikejutkan langkah kaki berlari dan teriakan seorang murid menuju ke arahku. "Bu Guru... Dodo sakit lagi. Kumat lagi..." Aku terkejut. Segera aku beranjak dari tempat duduk dan bergegas menuju ruang kelas. Sesampai di kelas, aku melihat salah seorang murid tergeletak di lantai dengan mulut mengeluarkan cairan seperti lendir. Mata terbelalak. Kaki dan tangannya mengejang. Dialah Dodo (maaf, hanya nama samaran). "Allahu Akbar... Kasihannya anak ini," batinku sambil bergegas menolongnya. Ini memang bukan kejadian pertama kali. Sejak pertama kali masuk sekolah, Dodo sudah begitu. Sekarang dia telah kelas 2. Berarti, sudah dua tahun di sekolah ini. Selama itu hampir setiap hari -- pada jam yang hampir sama pula --, dia ser...

Guru, Ternyata Itu Rencana Indah Tuhan Buatku

Gambar
SEBENARNYA menjadi seorang pendidik bukanlah cita-citaku waktu kecil. Bahkan terlintas d pikiranku pun tidak pernah sedikipun. Saat kecil yang selalu aku bayangkan adalah perempuan berseragam putih, cantik dan anggun. Ya, aku saat itu bercita-cita menjadi seorang perawat. Selepas Sekolah Lanjutan Atas, aku mencoba mendaftarkan diri di sebuah Akademi Keperawatan (Akper) di luar kota. Segala bentuk test aku ikuti. Bahagianya hati ini membayangkannya bila diterima. Rejeki, maut dan takdir adalah kehendak Tuhan. Siapa sangka ketika tiba saatnya membayar BO, kedua orang tuaku menggagalkanya. Sedih, kecewa, dan sakit hati aku rasakan saat itu. Sungguh di luar dugaanku. Menjalani kehidupan tidak sesuai cita-cita dan harapan sangatlah tidak nyaman. Setelah gagal masuk Akper aku ditawari kerja di sebuah Madrasah Tsanawiyah yang ada di desaku. Awalnya aku menolak karena merasa tidak punya keahlian apapun. Ternyata sepertinya Tuhan punya banyak rencana indah. Karena tekat masuk Akp...

Inilah Duniaku yang Lain

Gambar
KATANYA untuk bisa masuk grup "ODOP" syaratnya harus menyukai dunia tulis-menulis ya? Wah, kebetulan. Aku bukan hanya suka, tapi memang hobi menulis sejak remaja. Tapi jujur aku biasa bingung menulis kalau disuruh. Makanya saat ada syarat harus menulis sebanyak lima paragraf, whadaaaw..., aku tidak tahu harus memulai dari mana. Selama ini, aku lebih banyak menulis semacam diary. Idenya bisa muncul kapan saja. Tak kenal waktu. Terkadang pagi, siang, sore, tapi lebih banyak saat malam. Tidak selalu harus bergantung pada mood hati. Ada kalanya banyak ide ketika hati sedang sedih, tapi tak sedikit juga ketika hati gembira. Yang pasti apa yang terlintas di hati semuanya bisa aku jadikan tulisan. Bahkan tak jarang aku tuangkan dalam bentuk puisi. Oh iya, aku ingin cerita nih awal mula suka menulis, terutama puisi. Dulu aku suka banget buka-buka buku kakakku yang waktu itu sudah duduk di Sekolah Menengah Atas. Bagian yang paling aku suka adalah halaman belakang, karena di ...