Pagi Itu di Guci...
MINGGU pagi. Jarum jam baru menunjuk pukul enam lewat beberapa menit. Udara di obyek wisata Guci, Kabupaten Tegal, Jateng, masih terasa begitu dingin. Embun masih menempel di dedaunan, rumput-rumput yang terhampar tepat di depanku masih terlihat basah. Tanganku pun sedikit gemetaran menahan dingin.
Aku tak sendirian. Berdua dengan saudara sepupu. Berboncengan. Kebetulan, rumah kami dekat dengan Guci. Sekira 7 kilometeran. Aku sengaja datang pagi-pagi. Bukan sekadar wisata. Aku mencoba untuk meningggalkan rutinintas.
Suasana masih sepi. Belum banyak pengunjung. Begitu tenang. Setenang pikiranku yang seperti baru saja terbebas dari beban berat. Mencoba melupakan rutininas kantor yang tak selesai mengganggu pikiran, tumpukan masalah keseharian, hingga melupakan raut wajah lelaki yang selama ini terus menggayut di mata.
Aku memang tidak langsung ke wisata pancuran yang terkenal itu. Tapi sengaja menyusuri hutan pinus yang masih ada di kompleks wisata.
Di wisata Guci saat pagi, aku seperti sedang di awan. Sepi. Diselimuti kabut tebal. Begitu dingin.
Kita memang sesekali perlu lari dari rutinitas keseharian. Menikmati udara alam pegunungan yang begitu segar, suasana sepi dan terasa syahdu. Di antara suasana sepi itulah, upaya berkomunikasi atau mendekatkan diri kepada Allah SWT bisa digapai dengan lebih maksimal.
Ah, aku melihat seekor kupu-kupu terbang begitu pelannya. Menyusuri rerimbun dedaunan. Aku masih tetap berdiri di antara pepohonan pinus, sambil menatapi kupu-kupu itu hingga hilang dari pandangan.
Suasana masih begitu sunyi. Aku terdiam, seakan pasrah menikmati sejuknya udara pagi Guci. Sungguh.
Sesekali terdengar kicauan burung bersautan. Berkali-kali. Suara itu seperti mengilhami sesuatu. Ya, pematang benakku yang tersirami embun Guci telah ditumbuhi beribu ide.
Ada semangat yang tiba-tiba menyengat begitu sangat. Sungguh suatu karunia pagi-pagi bisa menikmati alam Guci. Dengan jaket dan switer, serta handphone yang tak pernah lepas dari genggaman.
Ada senyum yang tiba-tiba menyembul dari bibir. Ah... aku pun menghela nafas panjang. Ada kegembiraan dan semangat menyeruak. Sesuatu yang jarang aku rasakan.
Dari hutan pinus, aku menuju pemandian air panas. Banyak tempat pemandian air panas yang disuguhkan bagi para wisatawan seperti diriku. Tapi aku memilih untuk ke Pancuran 13. Ya, di situ ada sumber air panas yang keluar langsung dari pancuran. Jumlahnya 13 pancuran. Panasnya juga tidak sama. Aneh bukan? Air di sini diyakini memberi tuah dan kesehatan bagi yang mandi dan berendam. Aku pun berendam, sesekali mengguyurkan diri di bawah pancuran.
Tak jauh dari situ, ada air terjun. Air terjun Guci memiliki keunikan yang membedakan dengan air terjun lainnya, yakni air yang mengalir adalah air panas.
Udara yang sejuk dan percikan air dari puncak air terjun merupakan sajian terindah dari obyek wisata ini. Air terjun ini diapit tebing-tebing tinggi. Terkadang ada pelangi yang berputar menghiasi riak-riak air yang jatuh. Sebuah mahakarya yang sempurna.
Selain keindahan air terjun dan pemandian air panas, aku juga dimanjakan dengan pemandangan hijaunya hutan di lereng perbukitan pengunungan.
Berendam di air panas Guci seolah membawa kedamaian. Beban yang selama ini menggelayut, seolah hilang. Hanyut terbawa air yang mengalir menuju anak sungai.
Berada di Guci terasa begitu menikmati alam. Kehijauan bukit yang ditanami pepohonan dan samar-samar terlihat puncak gunung Slamet, mengantarkan kita untuk menenangkan diri dari semua hal, hiruk-pikuk masalah kantor hingga problematika rumah tangga yang tak selesai-selesai.
Aku berusaha menyerap segala apa yang nampak di depan mataku, merasakan segala apa yang menyentuh pori-pori kulitku, mendengarkan segala apa yang lewat di dalam gendang telingaku.
Suara percik air, hembusan angin yang menerbang-nerbangkan hijabku. Alam Guci demikian mencengangkan. Demikian indah dipandang, diserap, dirasakan, dinikmati, didengarkan.
Setelah menikmati indahnya Guci, aku benar-benar bersemangat. Hingga tak terasa siang menyapa. Aku pun pulang dengan senyum, menyambut beban yang akan aku hadapi esok hari. Semoga, semangat ini bukan hanya milikku, tapi milik kedua putriku yang saat ini masih berjuang di bangku sekolahan.
Menikmati alam Guci, bagiku, adalah sebuah ruang dan rentang waktu yang cukup paripurna memahami kebesaran Sang Pencipta dan Pemberi Semangat. Penuh ilham.
Jadi, cobalah Anda ke Guci. Menikmati alamnya sejak pagi hari. Untuk bisa menikmati sejuknya. Indahnya. Seperti diriku... (***)

Komentar
Posting Komentar