Guru, Ternyata Itu Rencana Indah Tuhan Buatku

SEBENARNYA menjadi seorang pendidik bukanlah cita-citaku waktu kecil. Bahkan terlintas d pikiranku pun tidak pernah sedikipun.

Saat kecil yang selalu aku bayangkan adalah perempuan berseragam putih, cantik dan anggun. Ya, aku saat itu bercita-cita menjadi seorang perawat.

Selepas Sekolah Lanjutan Atas, aku mencoba mendaftarkan diri di sebuah Akademi Keperawatan (Akper) di luar kota. Segala bentuk test aku ikuti. Bahagianya hati ini membayangkannya bila diterima.

Rejeki, maut dan takdir adalah kehendak Tuhan. Siapa sangka ketika tiba saatnya membayar BO, kedua orang tuaku menggagalkanya. Sedih, kecewa, dan sakit hati aku rasakan saat itu. Sungguh di luar dugaanku.

Menjalani kehidupan tidak sesuai cita-cita dan harapan sangatlah tidak nyaman.

Setelah gagal masuk Akper aku ditawari kerja di sebuah Madrasah Tsanawiyah yang ada di desaku. Awalnya aku menolak karena merasa tidak punya keahlian apapun.
Ternyata sepertinya Tuhan punya banyak rencana indah.

Karena tekat masuk Akper masih besar, aku pun menerima tawaran itu. Dengan harapan, kelak bisa menabung dari uang gajiku untuk mendaftar di Akper.

Tahun berganti, tak terasa. Setelah sekira 10 tahun berkerja, aku mencoba mendaftarkan diri d Universitas Terbuka (UT). Kegiatan belajar sedikitpun tidak mengganggu kewajibanku bekerja di Madrasah Tsanawiyah. Hingga ahirnya aku berhasil meraih gelar sarjana (S1).

Sejak itulah aku memutuskan keluar dari tempatku bekerja di Madrasah Tsanawiyah kemudian mengabdikan diri menjadi guru sekolah dasar (SD). Aku pun ternyata mulai menikmati profesi baruku sebagai "omar bakrie".

Sekarang aku ingin fokus menjadi seorang guru. Apalagi setelah beberapa tahun lalu aku lulus dan diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS).

Dan terbukti, Tuhan memang punya rencana indah. Meski gagal menjadi perawat, kini aku justru bahagia menjadi seorang "pahlawan tanpa tanda jasa". (***)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silakan Simak Ini Saudaraku

Tentang Bayangmu