Tuhan Tidak Pernah Meninggalkanku


DI kamar, perempuan itu duduk di sudut kasur. Begitu gundah. Pandangannya nanar keluar. Menatapi bintang-bintang, memandangi bulan yang sabit. Bersatu dengan temaram langit.

Suara tembang dari warung sebelah menyusup lewat celah ventilasi. Musiknya mengiringi kesepiannya. Iramanya menawarkan kesunyian. Sesunyi hatinya. "Apakah aku kuat tanpa dia? Sampai kapan?"

Ia masih ingat ketika lelaki itu memutuskan cinta. Lelaki yang sekian lama pernah menjadi kekasihnya dan kini telah meninggalkannya. Tanpa sebab. Begitu menyakitkan. Bagai duri menusuk tepat ulu hati.

Dunia terasa gelap. Menghitam. Setemaram langit malam yang masih dipandanginya. Lampu jalanan, bahkan cahaya bintang dan rembulan tak mampu menjadi terang. Dia merasa hanya gelap teman setianya saat ini.

Buliran air mata perlahan jatuh, menggenangi seluruh kenangan. Masih tergambar wajah tampannya. Terngiang kata-kata mesranya. Semburat senyum-senyum indahnya yang kini menjelma belati yang menghujam sekujur tubuhnya.

Dia masih saja gelisah. Seperti ada yang terus memperhatikannya, sepasang mata indah yang sangat dikenalnya. Yang seolah tak bisa hilang dari ingatannya. Ya, sepasang mata lelaki yang telah menggulungnya dalam selimut duka malam ini.

Sekonyong jemarinya merapat. Lalu ditempelkan di dadanya yang masih berdenyut kencang. Matanya yang sayu terpejam. Menunduk. Kesepian telah mengantarkannya pada Tuhannya. Mengilhaminya.
"Ya Allah, sabarkan, tabahkan, kuatkan..."

Perlahan wajahnya tak lagi sembab. Air matanya berhenti mengalir. Kering. Mulutnya mulai menyunggingkan senyum. Terlihat begitu cantik disinari temaram lampu kamar. Hatinya perlahan bangkit dari keterpurukan, sambil bergumam, "ternyata Tuhan tidak pernah meninggalkanku..." ***

iluatrasi: internet

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silakan Simak Ini Saudaraku

Tentang Bayangmu