Suara Itu, Milik Siapa?
Kereta ini berjalan pelan, dari arah Weleri menuju Slawi, Tegal. Aku perjalanan pulang setelah menengok putri bontotku yang sedang menimba ilmu di pesantren di Kendal.
Aku tidak sendiri. Saudara perempuanku menemaniku. Namanya Tati. Kami duduk berdampingan. Di tengah-tengah, ada seplastik cemilan. Isinya bermacam gorengan. Ah, aku tidak peduli meski aku tengah didengar batuk. Cemilan ini salah satu favoritku.
Di gerbong, aku lihat kursi di depan, samping, belakang, semuanya penuh penumpang. Tak bersisa. Mereka melakukan aktivitasnya sendiri. Ada yang bermain game di handphone, bervideo call, menelepon, atau sekadar mendengarkan lagu.
Tak banyak juga yang langsung selonjoran dan bersiap tidur. Ya, maklum, hari ini aku mendapatkan kereta sore. Berangkat dari Weleri pukul 17.00, dan akan sampai di Slawi pukul 19.00 lewat.
Suara riuh mereka seolah ingin menghiburku yang masih saja terdiam. Aku tak seperti mereka. Aku lebih memilih diam. Aku justru merasa sendiri di antara mereka.
Kereta jalan pelan. Sesekali mengeluarkan bunyi khas... Seperti sedang bernyanyi girang karena seluruh tempat duduk penuh. Itu artinya, sang kereta akan untung saat ini.
Mataku menyapu seluruh sudut ruangan gerbong. Entah apa yang dicari mataku. Tak ada yang tahu rasaku saat ini. Mereka tetap fokus dengan aktivitasnya sendiri.
Tak terasa, hembusan angin malam menerjang ragaku. Begitu dingin. Ya, di ruang gerbong itu dipasang AC yang cukup membuat badan menggigil.
Tapi aku tetap berusaha bertahan. Tak mengeluh. Aku lalu memakai jaket.
Tiba-tiba aku mendengar bisikan di telinga, "Engkau sedang memikirkan apa?"
Aku terkejut. Suara siapakah itu? Aku mencoba mencari arah suara, namun yang kudapat hanya para penumpang yang mulai bersiap untuk tidur. Hanya beberapa yang masih bermain dengan handphone.
Lalu, suara itu darimana? Apakah itu suara dari hati kecilku sendiri? Haruskah aku jawab pertanyaan itu?
Seketika ada resah, gelisah, takut, dan segudang perasaan lainnya menyelimutiku.
"Engkau sedang memikirkan apa?"
Suara itu kembali kudengar. Kali ini makin jelas.
Kali ini, dengan sekuat tenaga aku berperang melawan ketakutanku. Aku sedang memikirkan apa? Aku sedang memikirkan suara itu. Suara yang mengganggu perjalananku.
"Bisakah engkau diam dan tidak mengganggu perjalananku?" gumamku dalam hati.
Badanku tiba-tiba bergetar, seperti ada guncangan dari tangan-tangan yang cukup kuat.
"Bangun.. bangun..."
Aku terbangun. Ternyata, aku dibangunkan oleh Tati, karena kereta telah sampai ke Slawi.
Aku berusaha mengingat setiap kejadian yang baru aku alami. Apakah aku tadi bermimpi? Apakah suara asing tadi adalah suara angin malam?
Entahlah. Siapapun pemilik suara itu, aku tak peduli.
Aku lalu bergegas berdiri, mengambil tas dan menuju keluar dari gerbong. Aku tak peduli lagi soal suara itu.
Aku hanya ingin berucap, "Terima kasih ya Rabb, Engkau telah menjaga perjalananku, melindungi setiap nafasku." ***

Komentar
Posting Komentar