Ulasan Cerita Pendek: Kamar Mandi Mertua


A. Orientasi

Kamar Mandi Mertua adalah cerita pendek karya Mubruroh Qosim. Ia seorang penggiat literasi. Cerpen ini telah dimuat di ngodop.com.

Cerpen ini bercerita tentang rumah tangga dengan beraneka ragam kisah, termasuk perselingkuhan. Di situ dikisahkan sosok Maryani yang menjadi tokoh utama dalam cerpen ini. Dia perempuan yang tinggal bersama mertuanya. Nah, di sinilah cerita itu bermula.
Dia mencurigai suaminya berselingkuh dengan seorang perempuan. Bahkan, Maryani mencurigai, percintaan mereka sering dilakukan di sebuah kamar mandi mertuanya yang cukup sepi.

Hingga, perselingkuhan itu membuahkan hasil; bayi di luar nikah. Hatinya hancur. Lebih hancur lagi, ketika Maryani diminta untuk menyusui bayi hasil hubungan gelap suaminya dengan perempuan itu.

B. Tafsiran

Pada bagian awal cerpen ini, dikisahkan sang tokoh utama, Maryani, sedang memperhatikan tingkah seorang perempuan yang tengah mengendap-endap di antara rimbun pohon singkong. Satu tangannya memeluk sebuah benda yang sepertinya sebuah kotak kardus. Kardus itu kemudian diletakkan begitu saja di kebun itu. Setelah itu, si perempuan bergegas pergi. Perempuan itu adalah Sari.

Dalam cerpen ini dikisahkan, sosok Sari sebagai seorang perempuan yang tidak hanya cantik, tapi tinggi besar dengan rambut hitam panjang yang terawat. Orang tuanya kaya, sanggup menghidupinya dengan layak seandainya dia bersuamikan lelaki miskin sekalipun.

Sari digambarkan dalam cerpen ini sebagai sosok perempuan yang malas. Meski berasal dari keluarga berada, Sari tidak melanjutkan sekolah. Selepas SMA, dia tidak mau kuliah. Bahkan, dinikahkan pun tak sudi. Sari lebih memilih memacari para lelaki berwajah tampan dengan badan kekar.

Sari juga digambarkan sebagai sosok anak yang suka mencuri barang-barang berharga milik orangtuanya. Hasilnya, digunakan untuk foya-foya bersama teman-temannya.

Nah, lanjut pada perhatian Maryani tehadap sosok Sari yang saat itu tengah mengendap-endap dan meletakkan sebuah kotak kardus. Di sinilah si penulis membuat sebuah kejutan. Ternyata, kotak kardus yang ditinggalkan Sari itu bukanlah berisi barang curian dari rumah orangtuanya. Tapi, seorang bayi laki-laki yang baru saja dilahirkan.

Lalu, bayi siapakah itu? Maryani pun meyakini bila itu adalah bayi Sari. Bayi hasil hubungan gelap. Di situ digambarkan, betapa piawainya Sari menutupi kehamilannya. Bahkan saat melahirkannya pun tak ada yang mengetahuinya.

Maryani pun meyakini bila itu bayi hasil hubungan gelap Sari dengan suaminya, Marbun. Maryani kemudian teringat akan kamar mandi mertuanya. Di situlah kemungkinan Sari dan Marbun sering melepaskan sahwatnya. Maryani makin yakin karena dua kali melihat dua orang lelaki perempuan masuk kamar mandi mertuanya itu.

Dalam cerpen ini juga dikisahkan ketika Maryani diminta ibu mertuanya untuk menyusui bayi hasil hubungan gelap itu. Alasannya, karena Maryani baru saja melahirkan dan bayinya sama-sama laki-laki. Kontan, wanita ini pun menolaknya. Apalagi tahu bila bayi itu adalah hasil hubungan gelap Sari dengan suaminya.

Cerpen ini hanya menghadirkan sedikit tokoh, seperti tokoh utama Maryani, ibu mertuanya, dan Sari. Ceritanya ditulis dengan cara bertutur, dimana Maryani digambarkan sebagai 'aku'.

Cerpen ini mengambil alur campuran. Meski menceritakan cerita yang bergerak maju, terkadang pembaca juga harus menengok kisah ke belakang atau bergerak mundur (flashback) dengan setting cerita kekinian.

C. Evaluasi

Cerpen ini cukup menarik dengan alur yang tertata rapi. Pembaca kadang dibawa untuk mengikuti kisahnya ke depan, tapi terkadang juga pembaca dibawa untuk menengok ke belakang (flashback). Seperti saat menceritakan "sosok" kamar mandi itu yang dulunya digambarkan sering digunakan sebagai tempat untuk melepaskan hasrat cinta.

Gaya bahasanya juga mudah dipahami. Hanya penulisannya yang masih panjang dalam setiap kalimatnya, meski itu sah-sah saja.

Cerita yang disuguhkan merupakan realita yang sering terjadi di masyarakat. Hanya pengulasan masing-masing tokohnya masih belum begitu kuat. Seperti untuk tokoh utama atau protagonis maupun tritagonisnya, kurang digambarkan secara detail. Hanya tokoh antagonis yang sedikit digambarkan lebih mendalam.

Ending cerpen ini juga kurang menggigit dan terkesan datar. Bahkan kekecewaan Maryani yang mengetahui ulah suaminya kurang digambarkan secara detail.

Akan lebih menarik bila ada sesuatu yang mengejutkan pembaca di akhir cerita. Selain itu, akan lebih 'hidup' bila dimunculkan sosok suami dengan deskripsi yang lebih mendalam.

Sebagai sebuah bacaan, cerpen ini juga menyisipkan sisi edukasi, meski terkesan masih kurang. Sisi edukasi itu seperti dalam penggalan kalimat ini, "Dua-duanya tetap kejahatan, kan, Bu? Pelakunya wajib disanksi."

Sisi edukasi dalam cerpen sangat penting agar pembaca bisa mendapatkan nilai lebih, selain mendapatkan alur cerita. Cerpen bisa menjadi media yang ampuh untuk menyampaikan pesan-pesan moral atau nilai-nilai kepada pembacanya, juga dapat membangun sikap mental positif.

D. Rangkuman

Tak ada gading yang tak retak. Begitu juga cerpen "Kamar Mandi Mertua" ini. Namun bagaimana pun juga, cerpen ini cukup menyimpan pesan moral. Bagus dibaca oleh mereka yang sudah berumah tangga.

Anda masih penasaran dengan cerita menarik dalam cerpen ini? Silakan saja klik link berikut http://www.ngodop.com/art/17/Kamar-Mandi-Mertua

ilustrasi: ngodop.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silakan Simak Ini Saudaraku

Tentang Bayangmu