Sumpah dari Kubur
(Bagian 4)
Sejak kejadian itu, Ibu Dimas jatuh sakit. Sepertinya dia sangat memikirkan peristiwa yang telah mengoyak harga diri dan hatinya sebagai seorang ibu.
"Ya Allah, apa salahku hingga anak bungsuku sudah berani membantahku sekarang. Maafkanlah hamba-Mu ini Ya Allah. Sadarkanlah anak hamba," begitu rintihan Ibu Dimas di setiap sujudnya.
Ya, walaupun sedang sakit, Ibu Dimas selalu melaksanakan kewajibannya. Menyiapkan kebutuhan keluarga dan taat beribadah pada-Nya. Dia berpikir mungkin dengan beraktivitas semua ganjalan di hatinya sedikit terlupakan. Sakit yang dideritanya tidak lantas membuat perempuan paruh baya itu manja.
Setelah beraktivitas layaknya ibu rumah tangga lainnya, Ibu Dimas selalu mengisi waktunya dengan membaca-baca kitab Berzanji. Bersenandung dengan suara merdunya, hingga merasa lupa dengan persoalan yang sedang dihadapi. Terhanyut dakam lantunannya sendiri.
"Ya Robbi Solli 'Ala Muhammad..Ya Robbi Solli 'Alaih Wassaim...."
Brug.
Tiba-tiba Ibu Dimas jatuh tersungkur dari tempat duduknya. Suasana pun menjadi sepi. Apalagi di rumah memang hanya ada Ibu Dimas. Suami dan kedua anaknya tak ada.
Tercium aroma bawang merah dan jahe yang menyengat serta panas menjalari tubuhnya. Ibu Dimas berusaha membuka matanya.
"Apa yang terjadi padaku, kenapa banyak orang di kamar?" bathin Ibu Dimas sambil menggerak-gerakkan tangannya yang sedikit pegal.
"Alhamdulillah... akhirnya Mbakyu sadar juga," ujar Bulik Siti.
Hampir seperti jamaah Magrib di mushola, semua orang di kamar mengucap hamdalah, "Alhamdulillah..."
Ibu Dimas semakin bingung. Melihat Ibu Dimas seperti kebingungan, langssung saja Bulik Siti menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Mbakyu baru saja pingsan di ruang tengah. Untung saja cepat ketahuan. Kebetulan tadi aku main ke sini. Mengetuk pintu berkali-kali tidak dibuka. Aku penasaran karena tidak seperti biasa rumah sepi dan pintu rumah tidak dikunci. Eeeh benar saja, begitu sampai ruang tengah aku melihat tubuh Mbakyu sudah di lantai. Spontan aku teriak dan keluar mencari bantuan untuk mengangkat tubuh Mbakyu dan membawanya ke kamar," begitu penjelasan panjang lebar Bulik Siti kepada Ibu Dimas.
"Ya Allah, ternyata aku pingsan tadi," kata Ibu Dimas dalam hati.
Pikirannya kembali teringat kejadian beberapa hari yang lalu.
"Kenapa aku tidak mati saja," batinnya sambil memejamkan mata, berasa sangat berat beban yang dirasakannya.
Setelah dilihat agak membaik. Para tetangga berangsur pamit meninggalkan rumah. Tinggal Bulik Siti yang menemani Ibu Dimas.
Bulik Siti adalah adik dari Ibu Dimas. Rumahnya berdekatan, jadi hampir tiap hari Bulik Siti datang ke rumah Ibu Dimas.
Ibu Dimas tinggal bersama suami dan kedua anaknya. Suaminya bekerja di luar kota.
Tak lama Jihan, anak pertamanya pulang dari tempatnya bekerja. Selang beberapa menit kemudian datang pula Dimas dari sekolah.
Mereka berdua sedikit kaget karena mencium bau aneh dan tidak menjumpai ibunya di serambi, seperti kebiasaannya jika sedang menunggu anak-anaknya pulang. Setelah tahu bila sumber bau itu dari kamar ibunya, mereka berlari dan mendapati tubuh ibunya terbujur di atas ranjang sedang dipijit Bulik Siti.
"Apa yang terjadi dengan Ibu, Bulik?" tanya Jihan dan Dimas hampir berbarengan.
"Bulik juga tidak tahu. Tadi Bulik ketok-ketok pintu tapi tidak ada jawaban dari ibumu. Setelah Bulik memberanikan diri masuk dalam rumah, ternyata ibumu sudah tergeletak di lantai. Badannya sangat dingin," begitu penjelasan Bulik Siti.
Spontan Jihan dan Dimas merangkul ibunya sambil menangis.
"Ibu tidak boleh sakit. Ibu harus kuat, harus sehat. Maafkan kami Ibu," ujar keduanya.
"Ya sudah, kalian sudah ada di rumah. Bulik mau pulang dulu. Jaga ibu kalian ya. Kalau ada apa-apa kabari Bulik," ujar Bulik Siti sambil beranjak keluar kamar.
Malam harinya Jihan menemai ibunya. Sambik memijat-mijat kakinya. Anak perempuan itu begitu sedih melihat ibunya tergeletak tak berdaya.
Berbeda dengan Dimas. Dia sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi. Ternyata tangisan Dimas tadi siang hanyalah sandiwara. Dia tidak benar-benar menangis dan meminta maaf.
Sepertinya hati Dimas sudah tertanam kebencian karena ibunya yang telah melarangnya berhubungan dengan Intan. Rupanya cinta telah membutakan mata hatinya hingga dia berani mengambil keputusan yang salah, yaitu membenci ibu kandungnya sendiri. Sosok wanita yang telah sembilan bulan mengandungnya. Wanita yang rela menggadaikan separuh hidupnya untuk kehidupan dirinya.
Pukul 02.30 WIB.
Baru saja Jihan mau melepas mukenahnya, sayup-sayup dia mendengar suara.
Jihan menjerit ketika melihat ibunya bermandi keringat dengan mata terpejam dan memegang dadanya. "Allah... Allah... Allah...," sebut Ibu sambil menahan sakit.
"Ya Allah. Ibu kenapa lagi? Apa yang sakit Bu?" tanya Jihan sambil kebingungan melihat kondisi ibunya.
"Dimaaas... Dimaaas... Bangun cepetan. Ibu bagaimana ini," teriak Jihan dari kamar ibunya dengan suara keras untuk membangunkan Dinas yang tertidur pulas di kamarnya.
Namun tak ada jawaban dari Dimas. Jihan langsung berlari ke kamar Dimas.
"Dimas, bangun. Panggilkan Bulik Siti, ibu kambuh lagi," kata Jihan sambil mengguncang-bahu Dimas, berusaha membangunkannya.
"Aah... aku masih ngantuk kak, besok aja. Lagian ini tengah malam, aku takut keluar sendirian. Suruh ibu bersabar sampai besok pagi," jawab Dimas sambil menarik selimutnya.
Tak ada tanda-tanda sedikitpun Dimas akan bangun.
Malas berdebat dengan Dimas, Jihan langsung keluar kamar. Dia kembali menemui ibunya yang didapatinya sudah terbujur diam.
"Ibu... Ibu... Jangan tinggalkan aku... huhuu... huuuu..," jerit Jihan sambil mengguncang-guncang tubuh ibunya.
Tak ada reaksi sedikit pun dari ibunya. Tanpa pikir panjang Jihan berlari keluar rumah menuju rumah Buliknya. (bersambung)

Komentar
Posting Komentar