Entah...
SETIAP pulang mengajar, aku pasti menyempatkan untuk ke rumah kedua orangtua, tidak langsung ke rumahku. Bukan sekadar menengok beliau. Terkadang membantu keperluan rumah, seperti memasak, mencuci pakaian, bahkan mengepel. Makan bersama sambil bercengkrama. Atau sekadar untuk rebahan. Melepas segala penat.
Aku sangat bersyukur masih diberi kesempatan merawat dan menjaga kedua orangtua. Makan bersama dalam satu meja. Tak jarang aku memilih untuk bermalam. Aku memang lebih nyaman bersama mereka. Menikmati senyumnya, mendengarkan petuah-petuahnya, dan juga canda tawanya.
Jarak rumah orangtua tidak terlalu jauh dari tempatku mengajar, tapi cukup lelah bila harus berjalan kaki. Maka, aku pun selalu memanfaatkan ojek yang pangkalannya tak jauh dari sekolah.
Bila ke rumah orangtua, aku selalu melewati pekuburan umum desaku. Di situ, sudah ratusan, mungkin ribuan jasad warga desa telah dikebumikan. Dari jalan, terlihat nisan-nisan tertata. Berderet pula pohon kamboja yang membuat teduh pemakaman.
Bunga kamboja tampak mulai bersemi. Biasanya pohon kamboja ini akan merontokkan bunganya bahkan sebelum layu, dalam kondisi masih menyimpan bau wangi.
Setiap kali aku melewati pekuburan itu, selalu saja terasa ada yang mengetuk hatiku. Ya, sebuah tempat yang telah memberiku kesadaran sejati bahwa kelak, entah satu jam lagi, satu hari lagi, satu minggu lagi, satu bulan lagi, satu tahun lagi, atau entah kapan dan dimana pun itu, aku akan menyusul para penghuni kubur. Ya, aku pasti akan mati! Entah kapan. Entah dimana.
Lalu, apa yang mesti aku bawa sebagai bekal ke kubur kelak? Yang jelas bukan kecantikan dan kekayaan. Atau profesiku. Juga, tak mungkin akan ditemani oleh orang-orang yang aku cintai dan orang-orang yang selama ini mengaku mencintaiku. Mereka semua akan tertinggalkan.
Jiwa sok kepahlawananku pun tak akan mampu menahan kematianku kelak. Karena tak ada kecantikan, kekayaan, kedudukan, atau pun kepahlawanan dalam kematian. Semua akan hilang. Tubuh ini kelak hanya akan dibalut sebuah kain. Itu pun kain paling murah dan yang paling enggan aku pakai di dunia: kafan!
Lalu, kapan dan dimana aku akan mati? Entahlah! Hanya Allah SWT yang Maha Tahu...
Ilustrasi: nisan (internet)

Setiap yang beenyawa pasti akan mati😢 namun, apa yang bisa kita bawa sebagai bekal kita kelak? Astaghfirullah😭
BalasHapus