Menunggumu
"Aku rindu pantai itu," gumamku dalam hati sore ini.
Tiba-tiba saja rasa itu muncul. Tentu bukan tanpa sebab.
Ya, bukan pantainya yang membuatku rindu. Tapi sosok lelaki yang pernah menuntunku ke sana. Ke bibir pantai sambil menikmati senja. Menjamahi sunsetnya yang merona kemerahan.
Kala itu, berjalan bersamanya, senja seperti memelukku. Begitu hangat. Sehangat tatapannya yang kini menjelma kenangan. Ya kenangan kala perpaduan terang dan gelap itu.
Masih terngiang saat ia bisikan sepotong kalimat di telingaku, "jangan jenuh menungguku."
"Aku akan kembali nduk," katamu kala itu.
"Iya, dan aku akan setia hingga engkau kembali," balasku.
Mataku saat itu nanar. Berkaca-kaca. Sebutir airmata mengalir di pipiku. Tapi aku tersenyum. Bahagia.
Aku tahu, saat itu ia harus kembali ke perantauan. Pesawatnya segera lepas landas, dan hatiku dibawa lagi bersamanya.
Menunggu? Bagi banyak orang itu membosankan. Menyiksa. Tapi bagiku, menunggunya adalah sebuah keindahan, walau kadang harus disemai air mata. Menunggu untuk membangun sebuah istana cinta yang sakinah, mawadah, warohmah. "Ah.. indahnya," gumamku lagi dalam hati.
Aku tersenyum, seolah melambaikan tangan padanya sambil teriak, "segeralah kembali."
Waktu bergulir. Entah sudah berapa kali purnama. Tapi aku akan tetap menunggunya. Karena aku percaya senja tak pernah ingkar janji.***

Jadi, menunggu itu tak selalu membosankan ya kak? Apalagi yang ditunggu itu orang terkasih, pasti indah 😊
BalasHapusTak selamanya menunggu itu membosankan...
BalasHapusAda kalanya menunggu menjadi sebuah keharusan...
Menunggu jodoh misalkan 😅😅😅
doa terbaik untuk hubungan kaka :)
BalasHapusMantap kak #semangat
BalasHapusKeren mbak diksinya 😍
BalasHapusSaya suka diksinya
BalasHapusBagus, semangat menulis
BalasHapusMenunggu dengan sepenuh cinta
BalasHapus