Air Mata Perempuan
AIR matanya menetes, namun tak mampu membuat bola mata perempuan itu bergerak. Matanya tetap tak berkedip sedikit pun menyaksikan putrinya menangis sambil berlutut, menciumi kakinya. Terlihat sekali, hatinya hancur menyaksikan putri kesayangannya telah mengecewakannya.
Sang putri mengaku telah hamil di luar nikah. Lebih menyakitkan lagi, sang putri tidak tahu siapa lelaki yang telah menghamilinya, lantaran selama beberapa bulan pergaulannya begitu bebas dengan sejumlah lelaki yang dikenalnya.
Tak terbayangkan betapa malunya dirinya. Semua orang akan dengan jelas-jelas menggunjingkannya. Moralitas keluarganya akan jadi bahan olok-olokan.
Perempuan itu tidak menduga, putri kesayangannya, yang selama ini dibangga-banggakan, ternyata justru telah menghancurkan hati dan keluarganya. Keluarga yang dia bangun dengan landasan moral yang dianggapnya kuat selama ini, ternyata tak mampu menjaga kehormatan keluarganya.
Tubuh perempuan itu bergetar. Mulutnya seperti menahan sesuatu. Tertutup rapat. Tangannya mengepal. Begitu keras.
Berbagai macam persoalan berkecamuk dalam pikirannya. Selama beberapa menit, tak ada suara yang keluar dari mulutnya.
Kalau sang putri sendiri tidak tahu siapa pria yang telah menghamilinya, lalu apa yang harus dilakukan? Memangnya selama ini putrinya telah berhubungan dengan berapa lelaki? Lalu, apakah janin itu harus digugurkan? Tapi, akan berapa besar lagi dosa yang harus ditanggung hanya demi menutup malu dan aib keluarga.
Perempuan itu tak tega membunuh calon cucunya. Dia bertekad membesarkannya apapun yang terjadi. Tak akan peduli dengan gunjingan orang, asal cucunya lahir selamat.
Tapi, apakah cucunya lahir tanpa seorang ayah? Adalah lelaki yang siap menjadi ayahnya? Berbagai pertanyaan menggelayut di pikirannya, membuat kepalanya kian berat untuk digerakkan.
Tangis anaknya kian keras melihat sang ibu tak bergeming. Suaranya sampai mengundang perhatian tetangganya yang secepat kilat sudah berkerumun di halaman rumah.
Perempuan itu makin bergetar karena yakin aib keluarganya sudah sampai ke telinga para tetangga. Ingin rasanya dia secepatnya meninggalkan rumah, pergi jauh ke tempat dimana tidak ada orang yang mengenalnya. Tapi, bagaimana dengan nasib putriya? Haruskah ia menanggung beban sendirian? "Apakah aku harus egois dengan perasaanku sendiri?" pikir perempuan itu.
"Konyol kalau harus meninggal anakku. Karena bagaimana pun ini juga salahku yang tidak bisa mengawasi anakku selama ini," gumamnya lagi.
Dia bertekad tidak akan mengusir dan memutuskan hubungan dengan putrinya meski telah dianggap mencoreng nama baik keluarga.
Dalam hatinya dia berdoa agar diberi kesabaran, ketabahan, dan kekuatan serta jalan keluar atas permasalah yang dialami keluarganya. Perempuan itu memang harus membesarkan putrinya seorang diri setelah suaminya meninggal karena sakit tiga tahun lalu.
Seandainya suaminya ada, tentu masalah ini tidak akan pernah terjadi. Suaminya selama ini dikenal cukup ketat menjaga kehormatan keluarga. Bahkan, putrinya tidak pernah diberi ruang untuk sekadar berjalan-jalan dengan teman-temannya. Setiap pulang sekolah, harus selalu ada di rumah.
"Menjaga anak perempuan itu lebih sulit dari laki-laki. Kalau anak kita kenapa-kenapa akibat pergaulannya, siapa yang akan bertanggung jawab? Pasti kita orangtuanya," begitu alasan suaminya sehingga ketat dalam mendidik dan menjaga putri semata wayangnya itu.
Suami istri itu memang sangat membanggakan putrinya yang dikenal baik. Menyayanginya dengan sepenuh jiwa mereka. Maklum, sang putri adalah anak satu-satunya. Penerus keluarga.
Namun setelah suaminya meninggal, semuanya berubah. Perempuan itu lebih banyak meratapi kepergian suaminya hingga terkadang kurang memperdulikan putrinya.
Kepergian ayahnya, juga membuat putrinya seperti patah arang. Meski keras, sang ayah dianggap sangat baik baginya. Karena itu, kalaupun seandainya tidak ada larangan keluar rumah pun dia merasa betah di rumah. Betah karena ada sang ayah yang selalu menemani dan menjaga. Ayah yang tidak hanya sebagai kepala keluarga, tapi juga teman dan juga guru.
Namun setelah ayahnya meninggal, sang putri merasa sangat kehilangan. Tidak ada lagi orang yang bisa menjadi tempatnya berkeluh kesah. Sang ayah yang selalu menjaga dan menemani.
Bahkan, sejak itu, dirinya merasa tidak betah di rumah karena sikap ibunya yang dinilai tidak acuh terhadap dirinya. Bahkan, sang ibu dinilainya lebih banyak mengekang tanpa bisa seperti sang ayah yang juga mampu menjadi teman.
Sejak itulah, putrinya jadi tidak betah di rumah. Dia memilih sering pergi bersama dengan teman-temannya, sesuatu yang jarang terjadi saat sang ayah masih hidup. Pergaulannya menjadi bebas.
Hingga, hari ini, sang putri tiba-tiba pulang tapi dengan wajah berlinang air mata. Sang ibu kaget. Dia berusaha menghibur dan menenangkannya dengan pelukan. Dengan belaian.
"Ada apa Nak?" tanyanya.
Namun, sang putri sekonyong-konyong berlutut dan mencium kaki ibunya. Perempuan paruh baya itu pun seperti terkejut. Lebih terkejut lagi ketika mendengarkan pengakuan sang anak bila dirinya sudah dua bulan ini tidak datang bulan. Dia hamil!
Seperti terkena petir di siang bolong. Tiba-tiba perempuan itu berdiri mematung. Badannya seolah kaku. Tak ada lagi kelembutan. Air matanya mengalir. Bibirnya diam seribu bahasa. Badannya bergetar. Tangannya mengepal.
Sementara di halaman rumah, para tetangga sudah berdesakan melihat tragedi yang terjadi di depan matanya. Mendengarkan tangis mereka. Menyaksikan dua perempuan itu meneteskan air mata. ***

Miris banget bacanya
BalasHapusSabar sekali ibunya...
BalasHapusMemang berat mendidik anak perempuan. Tanggung jawabnya besar.
BalasHapusMendidik seorang anak perempuan memang tak mudah y..
BalasHapusHuah keren
BalasHapusPrehatin banget dengan ceritanya .
BalasHapusSmoga diberikan yang terbaik
Bener kk, kehilangan sosok ayah bisa membuat kita salah gaul kalo gak deket juga sama ibu...
BalasHapus