Aku hanya Butuh Merenung


SORE ini aku sengaja duduk di teras rumahku yang sunyi. Entah apa yang ingin aku nikmati. Selimir anginkah? Hilir mudik manusia di jalanan, atau sekadar merebahkan jiwa? Entahlah...

Mungkin, secara kasat mata, raga ini terlihat kuat. Tapi ternyata fisik yang kuat tak selamanya diikuti jiwa yang kokoh. Yang bisa sekuat tenaga melakukan apa saja. Ternyata, jiwa ini mudah rapuh. Bahkan, bagi manusia yang memiliki raga kuat sekalipun. Dan kerapuhan jiwa itu selalu menular pada raga. Seolah tak bertenaga.

Dan aku baru sadar, mengapa seorang pria yang berbadan kekar pun bisa meneteskan air mata. Apalagi aku, hanya seorang perempuan dengan tubuh yang jarang berolahraga.

Seringkali lelah jiwa menggelayuti. Merongrong raga menjadi lemah. Ya, mungkin karena di balik raga yang kuat karena ada jiwa yang kokoh.

Dan aku? Jiwaku saat ini sedang tak mampu berpijak, hingga raga ini pun melemas. Hanya mampu terduduk. Di teras rumah ini.

Aku seperti ingin mengadu pada angin yang semilir memijit-mijit sekujur tubuhku. Mengadu atas nasibku yang tak seindah mimpi. Namun semakin banyak aku mengeluh, semakin kencang angin menggoyangkan tubuhku. Seolah ingin membangunkanku dari sadarku yang tertidur.

Di saat cobaan bertubi-tubi mampir, jiwa ini seolah membutuhkan rumah untuk berteduh. Sekadar untuk berlindung, merebahkan rasa. Apalagi, sebentar lagi Tuhan akan memberiku petang dengan remang-remangnya, kemudian malam dengan gelap dan sunyinya. Aku benar-benar membutuhkan rumah untuk bermalam dan tidur. Rumah jiwa!

Terkadang aku iri dengan manusia lain. Mereka bisa mengenyam bahagia dengan begitu mudahnya. Tapi aku? Harus berjuang sendirian dengan begitu banyak rintangan dan cobaan.

Selama ini, banyak yang memujiku. Aku katanya perempuan yang kuat. Dengan kesendirian bisa membesarkan dua buah hatiku hingga ke jenjang kuliah. Dengan kesendirian aku bisa menapak karirku tanpa cela. Aku hanya membalas pujian itu dengan senyum. Ya, sekali lagi; senyum.

Padahal, sejujurnya, ketika pujian itu datang, aku justru menangis. Ternyata aku tak pernah jujur pada rasaku sendiri.

Tapi, aku juga menangis bahagia; karena aku telah mampu menutupi kelemahanku; menyimpan dukaku tanpa harus ada air mata menggenangi pipiku yang mulai berkerut.

Padahal, betapa banyak kegagalan menghampiriku tanpa mereka tahu. Betapa banyak kesulitan aku lalui. Betapa banyak derita yang aku seberangi. Tapi haruskah aku meratap?

Ah, aku hanya butuh merenung.

Merenung agar hati ini bisa berdamai dengan keadaan.

Agar semuanya seolah tampak biasa-biasa saja. Baik-baik saja.

Biar jiwa ini tak lemah lagi.

Biar hati ini bisa selalu ceria.

Biar aku bisa selalu tersenyum untuk kalian. Terutama, untuk dua buah hatiku; Dhia dan Tasya!

Komentar

  1. Semangat mbak. Setiap dari kita pasti lengkap memiliki kelebihan dan kekurangan. Fokus pada kelebihan supaya hidup semakin nyaman. 😍😍😍

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silakan Simak Ini Saudaraku

Tentang Bayangmu