Bahagia; Denganmu atau Tanpamu!
Malam ini, aku ingin menulis tentang kebahagiaan. Dalam Kamus Besar Bahasia Indonesia (KBBI), kebahagiaan itu artinya kesenangan dan ketenteraman hidup (lahir batin); keberuntungan; atau kemujuran yang bersifat lahir batin.
Kebahagiaan itulah yang aku rasa bersamamu. Engkau tahu tidak? Terkadang, meski dirimu tak sedang di sampingku, aku tetap merasa dekat. Engkau seperti menyapaku saat aku terbangun pagi dan menyelimutiku saat aku mulai terlelap.
Sering pula aku tersenyum dalam diam. Dalam kesendirian. Betapa Tuhan begitu baik mempertemukan kita. Menyatukan hati kita. Hingga, kita tetap merasa satu, merasa bersama, meski saling berjauhan jarak.
Bahagiaku juga teruntai dalam kata-kata setiap doaku. Betapa lebih bahagia bila kelak kita disatukan dalam satu atap bernama rumah tangga.
Bahagiaku juga semburat setiap handphone berdering. Ada pesan singkat darimu lewat whatsapp, meski hanya sekadar menanyakan kabar. "Sudah makan?" atau "Sudah salat?" Ah, bahagianya. Ternyata engkau tidak pernah secuil pun melupakanku.
Apalagi kala bertemu, saat yang paling aku tunggu. Bisa melihatmu langsung. Senyummu, kata-kata indahmu, hingga cerita belantaramu tentang kerjaan atau apa saja.
Tapi itu cerita dulu, ketika engkau masih bersamaku. Saat engkau belum pergi dan meninggalkanku tanpa permisi.
Lalu, apakah aku sekarang menderita karena kepergianmu? Apakah aku berharap engkau kembali? Ternyata tidak. Aku tetap saja merasa bahagia meski tanpamu.
Bahagiaku saat ini bukan tentang kepergianmu. Tapi, bahagia karena Tuhan telah menghadiahkan kesendirian sebagai penggantimu. Kesendirian yang menenangkan, kesendirian yang setia menemani kemanapun kaki ini melangkah. Kesendirian yang selalu ada di setiap rasaku.
Ya, kesendirianlah yang telah menyadarkan bahwa selama ini aku terlalu banyak memikirkanmu, tanpa pernah aku menjenguk diriku sendiri. Kesendirian yang membuat aku peduli dengan diriku sendiri.
Selama ini, aku telah mengacuhkan diri sendiri karena terlalu sibuk untuk membahagiakanmu, terlalu sibuk mengkhawatirkanmu, tanpa pernah mengkhawatirkan diri sendiri.
Kini aku tak lagi menyibukkan diri untukmu. Tapi percayalah, aku tetap berterima kasih kepada Tuhan yang mengizinkan kita untuk pernah saling memiliki. Dan saat engkau pergi, aku tetap berterima kasih karena Tuhan telah menunjukkan arti sebuah "kerelaan".
Ternyata aku tetap bahagia; denganmu atau tanpamu!

Komentar
Posting Komentar