Kejutan Ulang Tahun Putriku


"Mah, Adek pingin kalau ulang tahun nanti dikasih kejutan tengah malam. Pas Adek lagi tidur terus dibangunin. Mamah bawa kue yang ada nyala lilinnya. Terus nanti Adek niup lilinnya. Kayak di tivi itu loh Mah," rengek putri mbontotku sambil memainkan ujung kerudungku.

Aku tersenyum. Terbersit rasa ingin menggoda gadis kecilku ini.

"Ah... tivi yang mana? Mamah gak pernah lihat tuh. Adek salah lihat kayaknya," kataku.

"Iiihh... Ada kok, yang di sinetron itu, pas kemarin Adek lihat," rengek dia kembali.

"Hmmm. Sejak kapan anak Mamah kecanduan sinetron di tivi nih," ujarku.

"Nggak sih Mah, cuma kemarin pas Adek lewat ruang tengah ada Nenek lagi nonton TV dan ada sinetron yang kayak Adek ceritakan tadi. Plis ya Mah... mau ya... Adek janji deh sekali ini aja, Adek pingin kejutan di ultah Adek nanti," pintanya dengan wajah memelas.

Aku tertawa sambil mendekap tubuh mungilnya.

"Adek, di manapun kalau namanya kejutan itu gak ada yang tahu. Kejutan itu rahasia dong, masa kejutan kok diminta. Kamu ada-ada saja," jelasku.

Mendadak muka putriku berubah cemberut.

"Mau Adek juga Mah, tapi gak ada yang tahu keinginan Adek, makanya adek ngomong biar Mamah tahu," katanya sambil menangis.

Dia lalu berlari ke kamar, lalu menutup pintu dengan sedikit keras. Bruk!

Aku menghela nafas dan tersenyum melihat gadis kecilku ngambek begitu.

Memang, satu minggu lagi adalah tanggal lahir putri bungsuku yang genap berusia 12 tahun.

Dulu sewaktu dia masih kecil dari umur 1 tahun tiap tanggal lahirnya pasti dirayakan, walaupun cuma sebentuk nasi kuning atau kue tart, lalu sekadar berdoa bersama dengan saudara atau teman-teman dekatnya. Tapi sejak tiga tahun yang lalu kebiasaan itu tidak lagi ada karena kondisi kehidupan kami tak lagi seperti dulu.

Tanpa sadar air mataku menetes. Rasa sakit itu kembali menggores hati ini. Sungguh manusia hanya punya rencana, dan Allahlah yang Maha Menghendaki.

Perselisihan membuat aku dan suamiku memilih berpisah. Sekarang aku harus berjuang untuk menghidupi kedua anak gadisku.

Sebenarnya, menjadi perempuan 'single parent' bukanlah hal yang sulit buatku. Selagi masih hidup bersama, aku sudah terbiasa bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga, terutama untuk kedua putriku. Hanya saja sekarang harus lebih berhemat, karena biaya sekolah yang tak lagi murah, juga biaya hidup yang kian melambung. Apalagi, putri sulungku yang kuliah sambil indekost, membutuhkan biaya tidak sedikit setiap bulannya.

Ah sudahlah. Tak ada gunanya mengingat yang sudah berlalu. Biarlah menjadi catatan hitam dalam perjalananku menuju Rabb-ku.

"Huu... huuuu.. huuuu.." Terdengar suara tangisan dari kamar anakku. Rupanya dia masih menangis.

Tok... tok... tok... Aku mengetuk pintu kamarnya.

"Assalamualaikum sayang, buka pintunya. Mamah mau masuk," kataku dari depan pintu kamarnya.

Lama tak ada jawaban, aku kembali mengetuk pintunya.

Tak lama pintu terbuka dan aku dapati wajah anakku basah oleh air mata. Kerudungnya sudah acak-acakan.

Sambil tersenyum, aku mendekat dan memeluk tubuh mungilnya yang duduk di tepian ranjang.

"Sayang, apa sih yang tidak bisa buat kamu? Jangankan kejutan tengah malam, seluruh temanmu datang ke rumahpun Mamah setuju, karena Mamah tidak ingin membuat anak tersayang Mamah sedih di hari ulang tahunya nanti. Asal Adek mau berjanji satu hal pada Mamah," kataku panjang lebar.

"Apa itu Mah?" tanya anakku dengan rona yang langsung berbinar.

"Bersihkan kamarmu, mandi terus asharan. Lihat tuh sudah jam berapa sayang,"sahutku.

"Hehe... Mamaaaah... iyaa, siap. Adek minta maaf." Sambil beranjak dia memeluk dan menciumiku.

Waktu terus berlalu. Tak terasa sudah satu minggu. Itu artinya, besok adalah hari ulang tahun putri bungsuku. Dan nanti malam, aku harus memberinya kejutan.

Hari beranjak malam. Putriku sudah menuju ke dalam kamarnya. Mungkin dia tidur.
Aku sengaja tidak tidur. Menunggu tengah malam.

Tepat pukul 00.00 WIB, aku mengendap menuju kamar anakku yang kebetulan ada di lantai dua, dengan membawa kue tart dan nyala 12 lilin di atasnya.

Perlahan aku membuka pintu kamarnya yang memang tidak pernah dikunci (kecuali saat dia sedang marah).

Baru saja aku berniat mematikan lampu kamarnya, ternyata keadaan kamar sudah gelap gulita.

"Tumben anak ini tidur dalam keadaan gelap," batinku.

Aku lalu menuju ranjang tidurnya dan langsung mengucakan selamat ulang tahun. Namun putriku tak juga bangun. Aku lalu menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Namun hinga aku selesai menyanyi, tidak ada respon apapun dari anakku.

Spontan aku merasa sangat takut. Aku taruh kue tart di atas meja belajarnya. Aku buka selimutnya dan hanya mendapati bantal guling di dalamnya.

Ya Allah... kemana anakku malam-malam begini. Seharusnya dia ada di ranjang ini, tetapi kenapa tidak ada.

Segera aku nyalakan lampu kamar dan mencari anakku di seluruh ruangan,mtetap tidak ada. Aku masuk kamar mandi juga tidak ada.

Setengah berlari aku keluar kamar. Dengan perasaan yang sangat kacau aku mencari anakku di setiap sudut ruangan. Hasilnya tetap nihil. Tidak ada sosok anakku di sana. Sampailah aku di dapur, namun tetap tidak mendapati anakku.

Sambil menahan kepanikan, aku duduk di kursi makan. Aku mengambil segelas air putih lalu meminumnya. Saat itulah, sayup-sayup aku mendengar seperti suara orang sedang bicara. "Siapa tengah malam begini belum tidur," pikirku.

Makin lama kok merasa anek karena suara itu seperti seseorang yang sedang bicara sendirian. Aku selidiki asal suara itu. Sedikit takut sebenarnya, tapi rasa penasaran mengalahkan rasa takut itu.

Deg... Jantungku hampir copot ketika aku sampai di depan ruang sholat. Aku dapati anakku sedang bersimpuh sambil mengangkat kedua tangannya, seolah dia sedang berbicara bersama Raab-nya, dengan suara yang jelas diantara derai air matanya.

"Ya Allah... Adek sayang Mamah. Adek sayang kakak. Adek mohon jagalah mereka, seperti Engkau menjagaku. Permudahlah semuanya untuk Adek, agar Adek bisa membahagiakan mereka. Ya Allah... Adek kasihan sama Mamah yang harus kerja keras banting tulang untuk menghidupi Adek dan kakak. Lindungi Mamah ya Allah. Kuatkan selalu lahir bathinnya. Sabarkan selalu hatinya."

Tak kuasa aku menangis mendengar untaian doa yang keluar dari bibir mungil gadis kecilku itu.

Tidak menunggu lama, aku langsung memeluk tubuhnya dan menciuminya tiada henti.
Anakku sedikit kaget ketika aku tiba-tiba memeluknya. Rupanya dia tidak menyadari kalau aku sudah berada di situ sedari tadi.

"Mamah... Terimakasih untuk segalanya. Terimakasih untuk lilin angka yang ada di kue tart itu. Bukan maksud Adek minta dimanja Mah. Adek hanya ingin agar Mamah bisa melupakan peristiwa yang dulu. Adek pingin Mamah tersenyum lagi. Adek kangen Mamah yang dulu. Mamah yang cantik dan periang, dan selalu tersenyum manis setiap kali menyambutku pulang dari sekolah," kata putriku sambil terus memelukku erat.

Aah... sebegitunya dia berpikir.

Aku semakin menangis dan membalas pelukan erat gadis kecilku itu.

Tiba-tiba dia melepas pelukannya.

"Mah... kok kayak ada bau gurih gitu ya. Mamah bikin apa didapur?" tanya putriku sambil clingak-clinguk meyakinkan indra penciumannya.

Aku juga jadi ikutan mencari sumber bau itu sambil menuju ke dapur. Tapi tidak ada aktifitas apapun di situ.

Deg... Aku baru ingat kalau tadi telah menaruh kue tart di kamar putriku dengan lilin yang masih menyala.

Aku langsung teriak, "kue tartnya....."

Aku berlari sambil menggandeng putriku yang masih kebingungan menuju kamar atas.

Alamaaakkk... Benar saja bau gurih itu berasal dari kue tart. Ternyata, karena terlalu lama menyala, lilinnya sudah meleleh dan menimpa kue tartnya.

Kami spontan tertawa bersama. Itulah kejutan yang tidak aku rencanakan sebenarnya buat putri bungsku. ***


#Tantangan Pekan 7
#Hari ke-46

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silakan Simak Ini Saudaraku

Tentang Bayangmu