Lidhia... Tasya...
"Assalamualaikum. Mah, transfer arto malih nggeh. Paketane sampun kelamaan. Sekalian kaos kaki item. Intine dinten niki dikirim, enjang tak tunggu nggeh."
Itu pesan yang aku terima barusan dari si bontotku yang kini berada di pesantren Kendal. Ada kerinduan pada dia, juga kakaknya, yang saat ini tengah menjalani pendidikan kuliah di Bandung.
Dulu tidak terpikir akan jauh dari kedua putriku. Namun saat itu ternyata tiba juga. Aku harus ikhlas melepaskan kedua putriku pergi ke tempat yang jauh untuk menuntut ilmu. Dalam waktu yang nyaris bersamaan saat itu; hampir tiga tahun lalu.
Si Bungku pergi ke Timur, tepatnya ke pesantren di Kendal, sedangkan Si Sulung ke Barat, tepatnya ke salah satu perguruan tinggi di Bandung. Aku harus ikhlas berpisah dalam jarak dan waktu yang lama. Berat? Sudah bisa ditebak seperti apa. Maklum, ini perasaan seorang ibu yang melahirkan dan membesarkan mereka.
Ketika awal-awal sekolah, putri sulungku, Lidhia, sekolah di MAN 1 Tegal, sementara putri bungsuku, Tasya, masih di salah satu SDN di Bojong. Meski setiap pagi harus tidak ngumpul karena kesibukan masing-masing, namun setiap sore pasti kami bersama. Tentunya setelah aku pulang mengajar dan kedua putriku pulang dari sekolah mereka. Bertiga menikmati sore, malam, hingga pagi. Begitu seterusnya.
Saat awal-awal mereka menyatakan keinginannya untuk lanjut sekolah di daerah jauh, aku tidak terlalu menanggapinya. Setelah di MAN 1 Tegal, Lidia berkeinginan kuliah. Begitu pula Tasya yang berkemauan untuk sekolah sambil mondok.
Ketika itu, aku bersikap biasa saja. Biasalah, dalam perjalanan waktu, keinginan mereka bisa akan berubah dengan sendirinya. Begitu pikirku. Sebagai seorang ibu, tentu ingin selalu berada dekat dengan anak-anak. Apalagi keduanya adalah anak perempuan.
Waktu terus bergulir. Tak terasa pendidikan Lidia di aliyah menjelang berakhir. Begitu pula Tasya yang hampir rampung di SD. Cerita tentang melanjutkan sekolah di "negeri orang" semakin kencang dari mereka.
Akhirnya, saatnya tiba. Kedua putriku menyelesaikan sekolahnya. Lidia lulus dari MAN 1 Tegal, sedangkan Tasya lulus dari SD. Dadaku kian berdebar kencang. Setiap kali ingat keinginan mereka untuk sekolah di daerah yang jauh, yang tergambar adalah bayang-bayang perpisahan dengan mereka yang kian dekat. Bayang-bayang hari yang sepi tanpa mereka. Dan itu membuat dadaku seketika sesak. Bahkan, terkadang mata ini berkaca-kaca.
Bila mengikuti keinginan sendiri, sebagai mamanya, lebih baik mereka tetap bersamaku. Setiap hari aku bisa memeluknya, bercanda, bertukar pikiran, berjalan sembari berpegangan tangan, menikmati masakan-masakanku, menikmati canda-tawa, dan lain-lain.
Tapi aku melihat kepala Lidhia dan Tasya juga berisi impian yang besar. Dada mereka penuh semangat yang menyala.
Aku tidak boleh menahannya. Aku tidak ingin, jangan-jangan dekapan yang aku anggap sebagai bentuk kasih-sayang, justru adalah penghambat utama cita-citanya. Aku tidak ingin, genggaman tanganku, justru menjadi penghalang utama mereka untuk mengejar impiannya dan membuat mereka tidak bisa terbang tinggi.
Akhirnya, saat itu tiba. Lidhia memilih untuk melanjutkan kuliah di Poltek Pos Bandung. Sementara si bungsu Tasya melanjutkan sekolah di SMP Pondok Modern Selamat Kendal.
Itu pilihan mereka. Aku tidak bisa melarang. Aku tidak boleh egois. Aku tidak boleh mengedepankan keinginan sendiri. Aku harus melepaskan pelukan dan genggaman tangan ini, kemudian merelakan mereka pergi. Toh itu hanya untuk sesaat.
Kini, sudah hampir tiga tahun berjalan. Aku akhirnya bisa menikmati kesendirian jauh dari kedua buah hati. Rindu? Jangan ditanya. Tak ada rindu yang begitu besar, kecuali kepada mereka.
Namun aku selalu berdoa, keduanya selalu diberi kelancaran, sukses dalam pendidikannya, sehat, dan selalu dalam lindungan-Nya. Serta yang terpenting aku selalu mengingatkan mereka agar senantiasa bersandar kepada Allah Subhanahu Wata’ala. ***

Jadi ikut sedih bun, bayangin nanti krucil2q dah pada keluar dr rumah,,hiks
BalasHapus