Sumpah dari Kubur
(Bagian 2)
Tok..tok..tok..
Tok..tok...tok..
Terdengar pintu depan diketuk dengan keras, seperti sedang terburu-buru. Tanpa mengucap salam atau permisi. Karena tak ada jawaban, orang di balik pintu itu kembali mengetuk pintu.
Sedikit berlari, Ibu Dimas yang masih berusaha mengenakan mukenah bergegas menuju pintu depan.
"Iya sabar... sebentar," sahut Ibu Dimas dari dalam rumah.
Tak ada jawaban dari luar. Ibu Dimas tidak langsung membukakan pintu. Dia mengintip dari balik gorden jendela. Seketika bertanya dalam hati soal sosok di luar.
"Siapa gerangan perempuan yang di luar itu, baru kali ini aku melihatnya?" gumamnya dalam hati.
Segera Ibu Dimas membuka pintu. Dan terlihatlah sosok perempuan separoh baya dengan dandanan yang sedikit meno. Sekilas seperti perempuan dari keluarga berada.
Tak ada senyum secuilpun terlihat di wajahnya. Dia berkacak pinggang. Wajahnya seolah sedang menahan amarah yang sangat.
Tanpa permisi perempuan itu langsung masuk ke rumah.
"Heeehhh, dengerin ya. Aku tidak sudi kalau anak perawanku berhubungan dengan anakmu. Bocah ingusan, kere pula," kata perempuan itu sambil telunjuknya menuding ke arah ibu Dimas.
"Jangan harap aku merestui hubungan mereka, memangnya kalian punya apa?" katanya dengan suara keras.
Ternyata, perempuan itu adalah ibu kandungnya Intan, kekasih Dimas.
Menyadari kalau perempuan itu ternyata adalah ibunya Intan, ibu Dimas mempersilakannya untuk duduk. Tapi perempuan itu tidak mau dan tetap berkacak pinggang dengan wajah yang merah padam.
Tingkah ibu Intan itu spontan membuat ibu Dimas emosi. Sambil menahan amarah yang sudah sampai di atas kepala, ibu Dimas membalas perkataan ibu Intan dengan suara yang meninggi.
"Apa maksudmu bicara seperti itu? Kami memang tidak punya apapun yang dapat kami pamerkan, tapi kami masih punya harga diri. Urus saja tuh anak perawanmu biar tidak 'kegatelan' ngejar-ngejar anakku," bentak ibu Dimas.
Mendengar itu, ibu Intan membalas dengan suara yang makin keras. Bahkan kali ini dia mendekati ibu Dimas. Jarak mereka hanya sekitar setengah meter.
"Heh..sembarangan ya kalau ngomong, ngatain anakku kegatelan," sahut perempuan itu sambil menampar mulut ibu Dimas. Plakkk...
(bersambung)

Duh, penasaran lanjutannya
BalasHapus